Duka korban lumpur (by;vega A radar Sidoarjo 21-12-2010 )

Duka Korban Semburan Lumpur yang Hidup Telantar

Uang Ganti Rugi Habis, Tempati Bekas Kios Buah

Pembayaran ganti rugi yang tersendat-sendat membuat sejumlah korban semburan lumpur hidup merana. Jangankan menciptakan usaha baru, sekadar mencari tempat berteduh pun mereka kesulitan.

VEGA DWI ARISTA vegadwiarista@yahoo.co.id

BEBERAPA warga korban lumpur hidup terkatung-katung lantaran uang angsuran ganti rugi dari PT minarak Lapindo Jaya (MLJ) keburu habis. Salah satunya Sunami (52), warga Desa Jatirejo RT 3/RW 1, Kecamatan Porong, yang terpaksa menempati kios pasar buah di Jl Raya Porong. Kebetulan kios itu

sudah ditinggal pemiliknya. Kios yang atapnya jebol dan sebagian dindingnya terbuat dari bambu itu dia tempati bersama kedua anaknya, Ahmad Rosidi (18) dan Riyono Ashadi (21).

Sebelumnya janda dua anak ini selalu berpindah-pindah mengontrak rumah. “Uang saya akhirnya habis sehingga tidak mampu mengontrak lagi,” ujarSunami kemarin (20/12).

Dia mengungkapkan, sejak rumahnya di Jatirejo diterjang lumpur pada 2006 lalu, tandatanda kesengsaraan mulai muncul. Salah satunya PT Lapindo Brantas yang tidak mau membayar kontan aset warga yang ditenggelamkan lumpur, melainkan dicicil. Celakanya, cicilan awal yang dibayarkan tersebut tidak mampu menghidupi sebagian warga korban lumpur.

Ganti rugi 20 persen yang diberikan PT MLJ oleh Sunami digunakan untuk mengontrak rumah dan biaya hidup seharihari. Saat itu dia menerima uang Rp 45,5 juga, dan itu tidak cukup untuk membeli rumah baru. Nasib keluarga Sunami semakin tidak jelas setealh suaminya, Rohman, terkena penyakit kelainan empedu. Biaya pengobatan dan perawatan suaminya ikut menggerogoti uang ganti rugi 20 pesren tersebut. Apalagi suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan dan penjual es tidak mampu lagi mencari penghasilan. Setelah suaminya meninggal pada 2008 lalu, nasib Sunami dan keluarganya semakin terpuruk.Dompet yang telah kosong memaksa dirinya menempati kios buah yang sewaktu-waktu bisa roboh.

“Saya tidak takut jika roboh.Yang penting mendapatkan tempat tinggal,” ujarnya. Nasib tak kalah menyedihkan dialami Salwati (65), warga Jatirejo RT 11/ RW 3. Rumah saudara yang ditumpanginya juga tersapu lumpur.

Setelah rumahnya dijual sebelum semburan lumpur muncul,Salwati memang menumpang di rumah saudaranya di Jatirejo tersebut. Tapi setelah lumpur datang seluruh warga telah pindah, termasuk tetangga dekatnya yang sering dia mintai tolong. Dalam kondisi seperti itu keluarganya tak mampu lagi menampung Salwati.

Kini dia ditampung di Posko Advokasi Kampanye Korban Lapindo.“Tidak ada lagi yang mau menampung saya,” ucap Salwati yang tidak memiliki anak ini. Koordinator Posko Advokasi Kampanye Korban Lapindo Paring Waluyo mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) untuk menyelesaikan masalah ini. “Apakah nantinya BPLS akan mencarikan jalan keluar atau bekerjasama dengan Dinas Sosial, akan kita bahas nanti,” jelasnya. (vga)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: