Cicilan Macet, Air Bersih Sulit (radar sidoarjo 22/2/2011)

Warga Korban Lumpur Merasa Ditelantarkan
SIDOARJO – Dampak semburan lumpur Porong hingga saat ini masih mendatangkan derita bagi
warga sekitar. Baik warga yang tempat tinggalnya masuk peta area terdampak (PAT) maupun di luar PAT. Belum dibayarnya cicilan ganti rugi, masalah sosial, dan kesehatan merupakan pekerjaan rumah yang belum mampu diselesaikan oleh Lapindo, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), maupun pemerintah daerah.
“Kita ingin permasalahan kita akibat luapan lumpur segera tuntas,” ujar warga Pamotan, Joko Sugito, bersama belasan warga korban lumpur lainnya saat berkunjung ke redaksi Radar Surabaya, tadi malam (21/2).
Dalam kesempatan itu warga korban lumpur PAT dan di luar PAT yang tergabung dalam ‘Posko Kampanye dan Advokasi Korban Lapindo’ menyampaikan uneg-unegnya terkait respons yang lemah dari pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah mereka.
Warga di dalam PAT yang digembar-gemborkan telah menerima ganti rugi 20 persen, ternyata tidak sepenuhnya benar. Farid,warga Perumtas yang masuk dalam PAT, malah belum menerima ganti rugi 20 persen sama sekali. “Saya belum menerima cicilan sama sekali,” jelasnya.
Sulastri, warga Gempolsari,hingga sekarang malah masih tarik ulur dengan Lapindo terkait status tanah. Menurut Sulastri, tanah miliknya dianggap tanah basah sehingga akan diberikan ganti rugi yang rendah. Padahal tanah tersebut merupakan tanah kering dengan bukti kepemilikan sah.
Warga di luar PAT pun demikian. Bau gas metan yang menyengat dan bubble yang muncul menjadi makanan sehari-hari mereka saat ini. Malahan warga Pamotan sempat merasakan kesulitan mendapatkan air bersih, seperti yang dituturkan Joko Sugito.
“Meski ada suplai air dari pemerintah, justru menjadi masalah baru karena warga jadi rebutan,”
jelasnya. Karena itu warga 45 RT di luar PAT yakni warga Desa Mindi dari 18 RT, Desa Besuki timur 7 RT, Desa Pamotan 8 RT, dan Desa Ketapang 12 RT ,ingin segera diberikan payung hukum yang jelas.
Mereka ingin tidak hanya warga 9 RT di tiga desa yakni 4 RT di Desa Siring, 2 RT di Desa Jatirejo, dan 3 RT di Desa Mindi, Kecamatan Porong, yang diperhatikan pemerintah. “Padahal kondisi kami ini sama dengan mereka. Kita menderita dengan dampak yang dikeluarkan oleh semburan lumpur,” imbuh Abdus Salam, warga Ketapang. Menurutnya, BPLS sendiri terkesan lepas tangan dengan kondisi warga yang terus menderita.
Penanganan yang dilakukan oleh BPLS terkait masalah sosial warga juga lemah. “BPLS seperti
tidak berguna,” kata Abdus Salam. (vga)

radar surabaya 22 feb 2011

One Trackback to “Cicilan Macet, Air Bersih Sulit (radar sidoarjo 22/2/2011)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: