Gempa yogya dan semburan LUMPUR ,benarkah? by danny hilman

tulisan ini diambil dari forum para geologist 
Danny hilman : Pakar gempa Laboratorium Gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 

 

Tadinya ingin baca- baca dulu makalah-makalah mereka sebelum mendiskusikannya.  Tapi okay lah kalau sekedar tinjauan umum.  Sebelumnya,saya kira perlu kita consider bahwa kalaupun LUSI itu tidak ada kaitannya dengan gempa Bantul tidak berarti bahwa kejadian ini bukan bencana alam.

 

Menurut hemat saya, apabila sudah jelas bahwa tidak ada kesalahan dalam

prosedur pemboran maka LUSI itu secara hukum bisa dianggap sebagai bencana alam (apapun penyebabnya) meskipun kejadian mud volcano ini barangkali

memang benar dipicu oleh pemboran. Yang harus dijaga, kejadian ini tidak boleh terulang lagi dengan cara lebih memahami prosesnya dan barangkali ada

prosedur pemboran yang harus diperbaiki atau ditambah (aspek mitigasi

bencana alamnya).

 

 

 

Fenomena yang dikemukakan Neng Amanda adalah hal biasa.  Waktu seminar Lusi di Borobudur duluu Si Jim Mori juga mempresentasikan hal sama tapi pake

contoh dari Jepang.  Sebetulnya tidak perlu jauh-jauh cari contoh fenomenaini ke Amerika dan Jepang, di Indonesia juga banyak, khususnya di Sumatra karena saya lama meneliti di situ.  Jadi, adalah fenomena yang umum ditemukan bahwa suatu kejadian gempa dapat memicu aktifitas gempa/tektonik dan volkanik di sekitarnya, tidak perlu dibuktikan lagi.  Tapi yang penting untuk kita pahami adalah bahwa  “FENOMENA/PRINSIP” ini SAMA SEKALI BELUM MEMBUKTIKAN adanya keterkaitan antara gempa Jogya 2006 dengan peristiwa munculnya Mud Volcano di Porong,  Setahu saya dua pakar itu (Mori dan Clarke) sama-sama mengatakan bahwa mereka tidak bilang bahwa LUSI dipicu Gempa Bantul 2006, harus diteliti lebih lanjut dulu.

 

 

 

Sebagai ilustrasi, contoh dari Sumatra:

 

Gempa Aceh 2004 (Mw9.2) memicu Gempa Nias 2005 (Mw8.7). Dua gempa besar ini juga memicu banyak gempa-gempa kecil di Patahan Sumatra.  Kemudian selanjutnya dua gempa ini juga bisa dibilang memicu gempa  Bengkulu 2007 (Mw8.4).

 

Demikian juga gempa Padang 2009 (Mw7.6) memicu Gempa di patahan Sumatra dekat Danau Kerinci (Mw6.6) yang berjarak sekitar 250km dari Padang setelah 12 jam kemudian.  Yang aneh, Segmen Megathrust Mentawai yang sebetulnya sudah stress banget kok masih diam saja digoyang gempa M>8 tiga kali, M>7 puluhan kali,dan M>6 ratusan kali….

 

Gempa Liwa 1933 (M7.5) dalam 14 hari memicu letusan phreatic di Lembah Suoh karena Suoh ini memang persis diujung selatannya segmen patahan yang bergerak, yaitu di zona transtension.

Demikian juga Gempa Singkarak Maret 2007 (Mw6.4) memicu kenaikan aktifitas vulkanik Gunung Talang.

NAMUN, tentu  jauh lebih banyak patahan-patahan dan gunung-gunung api YANG TIDAK TERPICU.

Jadi, ada berbagai persyaratan yang harus dibuktikan bahwa pemicuan itu memang terjadi, tidak bisa main “copy – paste” saja.

Beberapa parameter dan prinsip  dasarnya adalah:

 

–          Seberapa besar gempanya

 

–          Seberapa jauh jarak sumber gempa ke lokasi

 

–          Suatu gunung api hanya dapat dipicu oleh gelombang gempa apabila gunung itu memang sedang dalam fasa aktif magmanya, tidak bias sekonyong-konyong meletup-letup.

 

–          Suatu patahan hanya dapat dipicu untuk bergerak  apabila patahan

itu memang termasuk patahan aktif dan kebetulan akumulasi stress/strainnya sudah cukup tinggi.  Tentu tidak bisa patahan yang sudah mati sekonyong-konyong bisa bergerak karena dipicu gempa, emangnya ada gempa zombie.

Dengan kata lain, istilah pemicuan gempa artinya hanya membuat akumulasi strain di suatu patahan menjadi terlepas (lebih cepat) karena digoyang  getaran gempa.

–          Demikian juga dengan Mud Volcano.  Gempa atau gerakan tektonik

sekalipun tidak bisa sekonyong-konyong memicu sebuah MV,kecuali kalau memang

sudah ada ‘bahan’nya, artinya ada “lapisan very unstable-saturated-overpressure” yang bisa meledak kalo digoyang.  Mungkin analoginya adalah seperti peristiwa liquifaction yang banyak terjadi di wilayah gempa, hanya skala dan kedalamannya beda.

Demikian ulasan prinsip-prinsip dasarnya.

Sekarang kita lebih fokus ke si LUSI.  Kita diskusikan dengan dialog saja deh biar enak.

 

 

Q: Apakah Gempa Bantul  2006 (Mw6.4) dapat memicu kejadian Mud Volcano di Porong yang jauhnya sekitar 280 km?

 

A: Gempa Bantul itu hanya menghasilkan getaran gempa sekitar 0.008g saja (~

MMI I atau II) .  Sedangkan sudah banyak gempa-gempa yang lebih besar/dekat

di sekitar Porong yang mmberikan getaran gempa jauh lebih besar, seperti terlihat pada data di  tabel yang saya buat di bawah.  Bahkan menurut catatan sejarah pernah terjadi gempa besar pada tahun 1850-an yang memberikan intensitas gempa di wilayah ini mencapai MMI VII.  Jadi, kalau gempa Bantul 2006 ini dianggap dapat memicu MV porong kenapa sebelumnya yang malah tiga kali lipat lebih besar tidak memicu?

1867 – Mw>6.4 – Gempa Bantul (Patahan Opak) – jarak= 276km ,   pga di Porong > 0.008 g

1937 – Mw=7.2 – Gempa Zona Subduksi – Selatan Jatim – Jarak= 250km,   pga di Porong = 0.03 g

1967 – Mw>6.8 – Gempa Zona Subduks – Selatan Jatim – jarak= 150km,   pga di Porong = 0.03 g

1977 – Mw=8.1 – Gempa NormalFault-Selatan Lombok – jarak= 632km   , pga di Porong = 0.03 g

1994-Mw=7.8- Gempa Zona Subduksi di Selatan Jatim – Jarak= 300km, pga di Porong= 0.03 g

2006 – Mw=6.4 – Gempa Bantul (Patahan Opak) -jarak= 276km   , pga di Porong = 0.008 g

Catatan:  0.03 g ~ MMI V,  0.01 g ~MMI III, pga = peak ground acceleration

 

Q: Bagaimana kalau misalnya saat gempa Bantul terjadi kebetulan si LUSI ini “lagi horny-horny”nya sehingga disentuh dikit langsung ‘orgasme’ hayoo?

 

A: O..walah, jangan porno ah, maksudnya ibarat orang yang dibawa ke bibir jurang sehingga dengan sentuhan sangat halus sekalipun bisa limbung terus jatuh juga ya?  Pertanyaannya apakah ada proses alam yang dalam kurun waktu 12 tahun (sejak 1994) bisa membawa LUSI ke tahap very very fragile,ataukah lebih masuk akal kalau ada intervensi non-alamiah (baca: pemboran)yang membawanya si LUSI ini menjadi siap orgasme?…eeeh ikut-ikutan porno nih.

Q: Tapi kata orang bukan cuma goyangan gempa yang memicu LUSI tapi goyangan itu membuat”REAKTIFASI” Sesar (Watukosek) terus gerakannya bikin si LUSI engga tahan  gitu lho?

 

A:  Ente pantang nyerah rupanya ya.  Tuh liat si Amanda yang nyebar gossip aja mesem-mesem denger omongan ente yang napsu gitu J  Gini ya, buang itu istilah REAKTIFASI,  Engga laku di sini.  Reaktifasi itu terjadi apabila sesar yang sudah lama mati karena posisinya sudah engga sesuai dengan medan tektoniknya kemudian setelah pergerakan tektonik selanjutnya selama berjuta-juta tahun patahan tersebut kembali ke posisi tertentu yang “favourable” lagi dengan tatanan tektonik yang berlaku sehingga menjadi aktif lagi.  Kita engga ngomong perubahan tatanan tektonik atau proses jutaan tahun di sini.

 

Q: Okay deh, maksud saya apakah gempa Bantul itu bisa memicu Sesar Watukosek

dan apakah kemudian gerakan si Watukosek ini bisa  memicu LUSI?

 

A:  Weleh-weleh, bener-bener  ya…., ini namanya hipotesa berdasarkan ‘asumsi di atas asumsi’.  Saya tanya balik deh mendingan:

 

– Apakah SesarWatukosek itu sudah terpetakan dengan baik? Kalau emang iya ada, apakah termasuk sesar aktif? Kalau jawabannya “belum ada bukti keaktifannya” maka hipotesa ini gugur sampai di sini saja (sorry-sorry Jack!).

 

Susah kalau membuat hipotesa berdasarkan asumsi yang belum jelas.Okay lah, kita lanjutkan berandai-andai. Kalau ternyata nanti ada yang bias membuktikan bahwa Si Watukosek ini aktif, inipun belum selesai,  kita masih harus membuktikan bahwa Watukosek itu memang terpicu oleh gempa Bantul.

Terus kita andaikan lagi,  kalau ternyata nanti ada juga orang yang bias buktikan bahwa si Watukosek ini memang terpicu dan bergerak di diantara kejadian Gempa Bantul dan Semburan LUSI, inipun  belum juga cukup buktinya. Orang masih harus membuktikan bahwa gerakan si Watukosek ini  dapat membuat si LUSI muntah (catatan: belum ada contoh kasusnya)….  Naaah  jadi panjang kan PR-nya.   Makanya bikin hipotesa jangan yang aneh-aneh…bikin repot sendiri.

Q :  Tapi kata Pak Awang ada yang menemukan ‘gejala-gejala’ di sepanjang kelurusan yang diduga adalah Sesar Watukosek, gimana tuh?

A :  He he he, salut deh atas semangatnya J  Tapi kata ADB dirinci dulu gejala-nya apa,  terus kronologisnya gimana.  Jangan-jangan gejala yang dimaksud cuma liat ada lumpur-lumpur yang menyembur-nyembur keluar disepanjang kelurusan yang dimaksud.  Kalau itu sih belum jadi bukti bahwa Sesar Watukosek aktif dan bergerak, bisa saja cuman lumpurnya aja yang bocor ke sepanjang ‘kelurusan’ yang diduga jalur sesar itu, iya toh?

Q:  Wuahh, tambah pusing nih.  Jadi fakta apa yang harus dicari untuk membuktikan Sesar Watukosek itu aktif?

A:  Keaktifan Sesar itu bisa dikenali dengan meneliti bentang alam (yang khas-morpho-tektonik) disepanjang jalurnya akibat pergerakan yang terjadi. Atau  dari seismisitas-nya yang terekam di jaringan alat seismik.  Atau bias dari sejarah pernah ada gempa (besar) di sepanjang jalurnya.  Atau bisa dari data pre-historic gempa kalau sudah dilakukan penelitian paleoseismologi disitu.  Kemudian kita bisa juga mendeteksi langsung pergerakannya dengan metoda pengukuran GPS geodesi.

Q: Kalau untuk membuktikan bahwa Sesar watukosek itu terpicu dan bergerak

diantara Gempa bantul dan Semburan LUSI bagaimana?

 

A:  Bukti yang “straight forward” ada dua: 1. Ada data rekaman gempa yang

terjadi di Sesar Watukosek (gempa itu terjadi karena gerakan deformasi elastik pada sesar), 2. Bukti  ada “fault displacement” di Watukosek, bisa

berupa ditemukan “offset” atau bukti pergerakan dari rekaman jaringan GPS atau dari analisis In-SAR (memakai data image satelit).

 

 

 

Q:  Capek juga ya jadi peneliti …  Untung saya praktisi bukan peneliti, jadi bisa ngomong nyeplos aja engga harus mikir susah-susah gitu J  Ok. jadi sekarang masalah si LUSI ini bagusnya diapain ya?

 

A:  Nah, seperti yang dibilang  ADB, Pak Kusumah, Pak Kendar, dan kawan-kawan lain, yang urgent adalah bagaimana mencari solusi  masalah untuk kepentingan orang banyak sekarang dan ke depan, termasuk memperkirakan sampai kapan si LUSI ini bakalan orgasme terus dan apa dampaknya serta bagaimana mengatasinya.

Tentu masalah proses dan penyebab si LUSI

menggeliat ini baiknya terus diteliti, tapi bukan untuk berpolemik cari siapa yang salah, melainkan supaya kita jadi lebih mengerti tentang fenomena ini sehingga akan lebih waspada dan tidak terulang lagi kejadiannya ,setuju?

 

Q: Jadi, mungkin ya ada sesar aktif di wilayah Porong  ini?

A: Ha ha ha, iya mungkin.  Wilayah ini kan ada di ZONA LIPATAN KENDENG, sedangkan dari Peta Geologi kelihatannya lipatan ini MENDEFORMASI LAPISAN KUARTER tuh.  Bahkan ada indikasi di bawah struktur lipatan-lipatan ini ada sesar-sesar anjaknya.  Jadi Jalur Kendeng ini struktur geologi yang POTENSI AKTIF.  Harus diteliti apakah struktur Kendeng ini juga mendeformasi sedimen Holosen dan Resen atau tidak?  Kalau benar, ya disebut  aktif.  Terus

mungkin bisa juga dilakukan pengukuran GPS dan studi paloseismologi, dll untuk mengkaji lebih jauh

 

Q: Terus kalau ternyata KENDENG ini aktif jadinya gimana?

A: Jadinya bukan hanya masalah LUSI tapi berarti juga di bawah Kota Surabaya yang persis di ujung Timur Jalur ini  bisa terdapat  “active blind thrusts”… Kemudian kalau melihat panjang Jalur Kendeng yang mencapai seratus kilometer lebih panjangnya berarti potensi gempanya juga besaar….

Q: Wuaduuh… Kok malah jadi nakut-nakutin nih!  Masalah ancaman gempa besar untuk Kota Jakarta belum selesai sudah bikin isyu baru di Surabaya… gimana seeh.  Gimana kalau benar-benar terjadi gempa besar ,  nanti “sudah jatuh ketimpa tangga” dong

 

A:  Makanya kalo jatuh cepet bangun dan lebih siaga, jangan uyek-uyekan terus di situ .

Sekian dulu….Apabila rekan-rekan punya data-data yang lebih konkrit

silahkan dibuka supaya dialognya bisa berlanjut dan lebih Mak Nyus.

 

Wassalam

 

DHN

 


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: