Perkembangan Tim Katastropik Purba

Maksud dan tujuan tim katastropik purba salah satunya adalah memperkaya data kebencanaan di Indonesia . salah satunya fenomena anomali Gunung sadahurip sebagai objek  riset tim ini. Dengan memegang prinsip kehati-hatian, serta pengujian alat/teknologi yang digunakan, maka Tim juga melakukan riset di beberapa tempat lain seperti trowulan, bukit dago pakar, dan situs megalitikum Gunung Padang.

Pada riset di situs megalithikum  Gunung Padang hasil uji teknologi menunjukkan adanya kemiripan dengan gunung sadahurip, maka tim memutuskan untuk terlebih dahulu melakukan tahap pengeboran untuk membuktikan uji teknologi di gunung padang. Hasil riset dapat dikumpulkan fakta bahwa ada kesesuaian antara uji teknologi dan hasil pengeboran. Pada  Gunung padang tim juga menemukan bangunan yang terpendam berupa man made structures. Hasil yang didapat di gunung padang sekaligus mengkalibrasi objek riset utama yaitu gunung Sadahurip yang direncanakan pengeborannya dilakukan pada bulan Maret ini

Lebih lanjut tentang  riset tim katastropik purba  berikut dapat di ikuti perkembangannya :

A. Riset Gunung Padang

1. Uji teknologi

Analisi morfologi G. Padang  jelas memperlihatkan G.Padang seperti sebuah gundukan besar di kaki sebuah punggungan dari Gunung Karuhun (perbukitan tinggi di Selatan G.Padang).  Artinya, interpretasi geologi yang paling mungkin adalah Gunung api purba atau intrusi batuan beku.  Dari  Hasil survey lintasan Geolistrik (memakai SuperSting R8) tidak mendukung interpretasi geologi ini.

Ada beberapa lintasan geolistrik yang dibuat:

 2 lintasan dengan spasing elektroda 3m dan 8m untuk penampang Utara-Selatan,

3 Lintasan dengan spasing elektroda 1m, 4m, 10 meter untuk penampang Barat-Timur (catatan: spasing elektroda 3m dengan jumlah electrode 112 depth of penetrationnya ~60m, yang 8m sampai 200 m-an).

Singkatnya, data geolistrik tidak memperlihatkan struktur intrusi magma, volcanic plug ataupun gunung purba, melainkan satu geometri yang sangat unik dan sepertinya tidak alamiah.  Inti gambaran subsurface  Gunung Padang. Dari atas 0 – ~20m adalah lapisan horizontal dengan resistivity ratusan Ohm-meters.

Di bawah itu ada lapisan dengan resistivity ribuan Ohm-meters (warna merah) dengan tebal sekitar 20-30meter, miring ke Utara tapi anehnya bagian atas lapisan miring ini seperti TERPANCUNG RATA (di kedalaman 20 meteran itu) dan membagi pas di ujung selatan Situs.  Ini mengindikasikan bahwa dari depth 20 meter ke atas adalah man-made structures.  Lapisan merah diduga adalah batuan keras massif – batuan andesit-basalt. Di bawah lapisan merah adalah lapisan batuan yang low-resistivity – kemungkinan berpori dan ber-air.  Tapi yang unik adalah adanya bentukan biru besar membulat di bawah situs yang sangat rendah resistivitasnya (mendekati 1 atau true conductor).  Keunikan tidak berhenti di situ, di bawah si biru bulat itu ada lapisan dengan resistivitas tinggi (merah) – batuan keras yang berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa”
 yang posisinya kira-kira sekitar 100 meter dari puncak atau sedikit di bawah level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs.  Penampakan cawan ini sangat konsisten terlihat di lintasan Utara-Selatan dan Barat-Timur.  Sama sekali tidak terlihat ada indikasi “feeding dukes” atau leher intrusi di Penampang geolistrik.

Survey GPR di atas Situs. 

Survey GPR dilakukan berbagai lintasan di semua Teras 1-5 dengan memakai antenna MLF 40 MHz dari SIR-20 GSSI yang dapat menembus kedalaman sampai sekitar 25-30 meteran. Dari survey GPR terlihat ada bidang very high reflector di kedalaman sekitar 3-5 meter dari permukaan di semua teras.  Bidang ini sangat horizontal dan juga membentuk undak-undak seperti situs di atasnya.  Dibawah bidang ini struktur lapisan tidak kalah unik. Ada lapisan melintang yang memotong lapisan-lapisan
 horizontal  – tidak mungkin ada struktur geologi seperti ini apalagi di bukit ‘vulkanik’. 

Singkatnya, penampang georadar sangat mendukung interpretasi struktur bangunan sampai kedalaman 20 m adanya dugaan lapisan 20 meter ke bawah dari atas situs adalah man-made structures

Struktur di bawah situs ini berundak juga mengikuti struktur teras situs yang terlihat di permukaan.  Dari berbagai lintasan geolistrik 2D sangat mungkin bahwa sampai ke kedalaman sekitar 100 meter, yaitu sampai ke struktur batuan keras berbentuk Cawan adalah bangunan atau paling tidak tubuh batuan alamiah yang sudah dipermak manusia. Hasil survey geolistrik 3-D pada situs di atas puncak yang dimaksudkan untuk mendapatkan sub-surface structure yang lebih detil.  Survey 3-D ini mencakup hamper seluruh luas situs (memakai spacing 5m dibuat 4 lines Utara Selatan dengan electrode 112 buah – atau setiap line ada 28 electroda).  Depth of dari survey 3-D ini mencapai kedalaman 25 meteran.  Hasil 3-D dapat meng-iluminasi struktur di bawah situs dengan baik.  Yang membuat terkesima adalah kenampakan tiga tubuh very-high resistivity (lebih dari 50.000 ohm.m) di bawah Teras 1, 2, dan 5.

Dengan nilai resistivitas setinggi ini kemungkinannya ada dua: tubuh sangat solid/pejal atau merupakan ruang (“CHAMBER”). Yang paling mungkin adalah Ruang hampa udara (“The Chamber of secret”).  Dimensi chamber tersebut kelihatannya sangat besar.  Hasil survey geomagnet dilakukan dengan peralatan GEM Overhauser yang sangat sensitive yang biasa dipakai untuk survey arkeologi. 

2. Uji pengeboran

 Ada dua titik yang di pilih: Bor satu di ujung Selatan Teras 3, Bor ke dua di samping Selatan Teras 5.  Sebenarnya dua lokasi bor yang dipilih bukan titik “Jack-pot” yang seharusnya di-bor, misalnya persis di atas Chamber atau anomaly high magnetic-nya.  Hal ini dikarenakan lokasi-lokasi ini di atasnya dipenuhi tumpukan kolom
 andesit situs yang tidak boleh dipindahkan.  Ijin bor dari pihak berwenang didapatkan  tapi belum diperbolehkan untuk memindahkan bebatuan situs.  Walaupun demikian, hasil pemboran sudah cukup untuk membuktikan dugaan struktur bangunan dan juga sukses dalam mengkalibrasi hasil survey georadar dan geolistrik. 

Pada Lubang Bor 1:

Dari permukaan sampai kedalaman kira-kira 3 meter terdapat perlapisan susunan kolom andesit 10-40 cm (yang dibaringkan) diselingi lapisan tanah. Setiap kolom andesit ini dilumuri oleh semacam semen (sama seperti yang ditemukan waktu trenching dinas kepurbakalaan tahun 2000 sampai kedalaman 1.8 meter).  Sewaktu menembus 3m kami mendapat surprise karena tiba-tiba drilling loss circulation dan bor terjepit.  Yang dijumpai adalah lapisan pasir-kerakal SUNGAI (epiklastik) yang berbutir very well rounded setebal 1 meteran (Note: Rupanya bidang tegas yang terlihat pada GPR itu di kedalaman 3-5 meter di
 semua Teras adalah batas dengan permukaan hamparan pasir ini). Dari sudut teknik sipil, diperkirakan  hamparan pasir ini dimaksudkan sebagai peredam guncangan gempa. 

Bagian dibawah kedalaman 4m yang ditembus bor ditemukan berupa selang seling antara lapisan kolom andesit yang ditata dan lapisan tanah-lanau. Lapisan kolom andesit yang ditata itu sebagian ditata horizontal dan sebagian lagi miring (catatan: ini sesuai dengan survey GPR yang memperlihatkan bahwa perlapisan ada yang horizontal dan ada yang miring). Baru dikedalaman sekitar 19 meter bor menembus tubuh andesit yang kelihatannya massif tapi penuh dengan fractures sampai kedalaman sekitar 25 meter (note: sesuai dengan penampang geolistrik bahwa kelihatannya bor sudah menembus lapisan merah yang terpancung itu).  Banyak ditemukan serpihan karbon, diantaranya ditemukan di kedalaman sekitar 18m yang lebih menguatkan bahwa lapisan batuan dan tanah yang ditembus bukan  endapan gunung api alamiah tapi struktur bangunan. 

Pada Lubang Bor 2:

Bor ke-dua yang dilakukan persis di sebelah selatan Teras 5 menembus tanah (yang seperti tanah urugan sampai kedalaman sekitar 7 meter. Kemudian ketemu batuan  andesit keras. Di kedalaman 8 m terjadi hal mengejutkan – Total Loss, 40% air di drum langsung tersedot habis. Hal ini berlangsung sampai kedalaman 10 m. Inilah target utama-nya – tubuh very high resistivity yang terlihat jelas di Geolistrik 3-D.  Mata  bor menembus rongga yang diisi pasir (kering) yang luarbiasa keseragamannya seperti hasil ayakan manusia. 

Di bawahnya ketemu lagi dua rongga yang juga terisi pasir ‘ayakan’ itu diselingi oleh ‘tembok’ andesit yang sepertinya lapuk.  Pemboran berhenti di kedalaman 15m.

Hasil preliminary dari analisis carbon radiometric dating dari banyak serpihan arang yang ditemukan dikedalaman sekitar 3.5m. menunjukkan umur Carbon Dating sekitar 5500 tahun yang
 kalau dikonversikan ke umur kalender adalah sekitar 6700 tahun BP atau sekitar 4700 SM, jauh lebih tua dari umur Pyramid Giza yangsekitar 2800 SM.  Masih banyak analisis yang sedang dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih solid lagi, termasuk penentuan umur carbon dating dibeberapa horizon stratigrafi.

 SINOPSIS BOR: Berhasil melakukan kalibrasi survey Georadar dan Geolistrik. Satu diantaranya yang penting bahwa tubuh high resistivity yang terlihat di geolistrik adalah rongga yang di lokasi Bor-2 rongga ini sebagian terisi oleh pasir ‘ayakan’ yang sangat kering.

3. Konstruksi tumpukan batu G. Padang bukan pekerjaan sembarangan tapi hasil olah arsitektur yang luar biasa. Setelah dilakukan studi banding ke Michu-Pichu (bangunan Piramid Maya di Peru) seorang arsitek  yang meriset di Gunung Padang Pon Purajatnika (mantan ketua Ikatan Ahli Arsitektur Jabar)  berkesimpulan bahwa arsitektur G.Padang persis sama dengan Michu Pichu. Beliau juga sudah membuat rekonstruksi Situs Gunung Padang di atas bukit. Sketsa imajiner arsitektur G.Padang dari puncak sampai dasar  Sungai Cimanggu ~200m – Yaitu sebuah Piramid – ala Maya – yang sangat besar.

B. Riset SADAHURIP

Gunung  Sadahurip kini menjadi pembicaraan dimana-mana. Eksplorasi lebih lanjut, termasuk pengujian/kalibrasi dengan (coring) sumur bor tahap yang  masih diperlukan untuk memastikan  Gunung  Sadahurip sebagai man made structures secara scientific,  meskipun hasil uji teknologi yang ada, terlihat kemiripan hasilnya dengan gunung padang. Tim mendahulukan Gunung padang karena salah satu pertimbangannya sebagai pengujian kalibrasi disamping alasan teknis lainnya di gunung padang tidak menyedot perhatian. Direncanakan pada bulan maret nanti tahap pengeboran dilakukan pada gunung sadahurip

C. Riset awal Trowulan

Survey yang telah dilakukan di  Trowulan,  memperlihatkan bahwa dari hasil survey Georadar dan pemboran tangan dangkal juga analisa carbon dating ditemukan bahwa (jejak) kanal besar yang disimpulkan oleh para arkeolog dibuat  pada Jaman Majapahit ternyata posisinya ada di bawah “ketidakselarasan” struktur batamerah Majapahit di (dekat) permukaan, atau dengan kata lain kanal itu dibuat oleh peradaban sebelum Majapahit.  Hasil carbon dating menunjukan bahwa umur dari lapisan peradaban sebelum  Majapahit itu sekitar 600 SM. 

Dari berbagai singkapan karena penggalian tanah yang diambil untuk industri pembuatan bata ditemukan banyak struktur sisa bangunan dari batamerah di bawah lapisan Majapahit yang tertimbun oleh endapan lumpur mirip Lumpur Sidoarjo / Lumpur Lapindo.

 Di singkapan lain ada juga reruntuhan batamerah (pra-Majapahit) yang tertimbun endapan seperti lahar.

penutup :

 
Tim  diundang oleh panitia Konferensi Internasional di Bali  yang diselenggarakan Fak-Kebudayaan UI untuk menjadi pembicara mendampingi Prof Sthephen Oppenheimer pada Konferensi Internasional Kebudayaan di Sanur Bali yang dihadiri oleh banyak kalangan dan ahli diberbagai bidang termasuk arkeologi dari dalam negeri dan manca Negara. Setelah Oppenheimer memberikan Keynote Speaker-nya,  Tim  yang diwakili DR Danny Hilman dan DR Andang Bachtiar memberikan presentasi tentang hasil-hasil penelitian Tim Studi Bencana Katastropik Purba dengan materi yang sama seperti di tgl 7 (Sarasehan ekspose publik dari riset yg dilakukan, ada 200 lebih ilmuwan yang hadir dari 500 undangan yang datang).

Pada Paparan di Bali dimoderatori  Arkeolog kondang Dr. Agus Arismunandar. Hadir juga Dr. Ali Akbar, ahli arkeologi  yang spesialis Jaman Pra Sejarah. Tim mendapat dukungan dan banyak masukan berharga dari kedua arkeolog  ini. Sambutannya hadirin luarbiasa. Pada akhir presentasi Dekan Fak Kebudayaan UI menyatakan kegembiraannya bahwa katanya penemuan-penemuan ini,khususnya di Gunung Padang, adalah sangat fenomenal. Diharapkan hal ini akan menjadi pemicu untuk studi-studi baru menguak masa silam Indonesia. Beliau juga secara spontan mengatakan idenya untuk mengembangkan Program Pasca dan Lab Arkeologi dengan tambahan metoda Arkeo-geologi seperti yang diterapkan oleh tim Katastropik. Rencana Pak Dekan ini langsung mendapat sambutan positif dari Pak Gumilar, Rektor UI, yang juga hadir mengikuti seminar dengan antusias.

Prof Oppenheimer yang diminta komentarnya oleh moderator menyatakan kagum dan sangat menikmati presentasi hasil penelitian Gunung Padang. Beliau bilang: ” I am really
 impressed that you have done all the geological-geophysical surveys so thouroughly and carefully with an amazing result. I would love to hear the next progress In my next visit to Indonesia, I would certainly will come to visit Gunung Padang.” Cerminan kerendahan hati seorang ilmuwan, setelah sebelumnya di Jakarta beliau menyatakan “skeptical” tentang penemuan ini kalau belum melihat data dan analisanya.

sumber : laporan singkat TIM KATASTROPIK PURBA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: