Maret 12, 2012

PELAJARAN BERHARGA DARI TSUNAMI JEPANG #setahuntsunami jepang

by:

DR. Sutopo Purwo Nugroho, APU
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Hari ini (11/3) tepat setahun peringatan tsunami Jepang. Gempabumi 9 SR dengan pusat kedalaman 24,4 km di sebelah pantai timur Sendai, Jepang, pada 11 Maret 2011 pukul 12.46 WIB atau 14.46 waktu setempat menimbulkan tsunami. Tinggi tsunami lebih dari 20 meter, tinggi gelombang run up tsunami 40,5 m. Dampak yang ditimbulkan 15.769 orang meninggal, 4.227 orang hilang, dan 470.000 orang mengungsi. Total kerugian ekonomi US$ 220 miliar setara 3,4% dari GDP (Gross Domestic Bruto) Jepang. Atau setara hampir seperlima GDP Indonesia saat ini. Suatu kerugian yang luar biasa besar.
Baca lebih lanjut

Februari 14, 2012

Perkembangan Tim Katastropik Purba

Maksud dan tujuan tim katastropik purba salah satunya adalah memperkaya data kebencanaan di Indonesia . salah satunya fenomena anomali Gunung sadahurip sebagai objek  riset tim ini. Dengan memegang prinsip kehati-hatian, serta pengujian alat/teknologi yang digunakan, maka Tim juga melakukan riset di beberapa tempat lain seperti trowulan, bukit dago pakar, dan situs megalitikum Gunung Padang.

Pada riset di situs megalithikum  Gunung Padang hasil uji teknologi menunjukkan adanya kemiripan dengan gunung sadahurip, maka tim memutuskan untuk terlebih dahulu melakukan tahap pengeboran untuk membuktikan uji teknologi di gunung padang. Hasil riset dapat dikumpulkan fakta bahwa ada kesesuaian antara uji teknologi dan hasil pengeboran. Pada  Gunung padang tim juga menemukan bangunan yang terpendam berupa man made structures. Hasil yang didapat di gunung padang sekaligus mengkalibrasi objek riset utama yaitu gunung Sadahurip yang direncanakan pengeborannya dilakukan pada bulan Maret ini

Lebih lanjut tentang  riset tim katastropik purba  berikut dapat di ikuti perkembangannya :

A. Riset Gunung Padang

1. Uji teknologi

Analisi morfologi G. Padang  jelas memperlihatkan G.Padang seperti sebuah gundukan besar di kaki sebuah punggungan dari Gunung Karuhun (perbukitan tinggi di Selatan G.Padang).  Artinya, interpretasi geologi yang paling mungkin adalah Gunung api purba atau intrusi batuan beku.  Dari  Hasil survey lintasan Geolistrik (memakai SuperSting R8) tidak mendukung interpretasi geologi ini.

Ada beberapa lintasan geolistrik yang dibuat:

 2 lintasan dengan spasing elektroda 3m dan 8m untuk penampang Utara-Selatan,

3 Lintasan dengan spasing elektroda 1m, 4m, 10 meter untuk penampang Barat-Timur (catatan: spasing elektroda 3m dengan jumlah electrode 112 depth of penetrationnya ~60m, yang 8m sampai 200 m-an).

Singkatnya, data geolistrik tidak memperlihatkan struktur intrusi magma, volcanic plug ataupun gunung purba, melainkan satu geometri yang sangat unik dan sepertinya tidak alamiah.  Inti gambaran subsurface  Gunung Padang. Dari atas 0 – ~20m adalah lapisan horizontal dengan resistivity ratusan Ohm-meters.

Di bawah itu ada lapisan dengan resistivity ribuan Ohm-meters (warna merah) dengan tebal sekitar 20-30meter, miring ke Utara tapi anehnya bagian atas lapisan miring ini seperti TERPANCUNG RATA (di kedalaman 20 meteran itu) dan membagi pas di ujung selatan Situs.  Ini mengindikasikan bahwa dari depth 20 meter ke atas adalah man-made structures.  Lapisan merah diduga adalah batuan keras massif – batuan andesit-basalt. Di bawah lapisan merah adalah lapisan batuan yang low-resistivity – kemungkinan berpori dan ber-air.  Tapi yang unik adalah adanya bentukan biru besar membulat di bawah situs yang sangat rendah resistivitasnya (mendekati 1 atau true conductor).  Keunikan tidak berhenti di situ, di bawah si biru bulat itu ada lapisan dengan resistivitas tinggi (merah) – batuan keras yang berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa”
 yang posisinya kira-kira sekitar 100 meter dari puncak atau sedikit di bawah level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs.  Penampakan cawan ini sangat konsisten terlihat di lintasan Utara-Selatan dan Barat-Timur.  Sama sekali tidak terlihat ada indikasi “feeding dukes” atau leher intrusi di Penampang geolistrik.

Baca lebih lanjut

Februari 12, 2012

Menguak Piramida di Gunung Padang

vivanews.com

Menguak Piramida di Gunung Padang

Ditemukan pasir halus, dan semen purba di dalam gunung itu. Diduga buatan manusia

Di atas Gunung Padang, pipa itu lurus melesak masuk ke tanah. Lengking suara mesin bor bercampur desau angin melantun di perbukitan Cianjur, Jawa Barat, pada Jumat pekan lalu. Seorang lelaki tambun menyimak gerak pipa-pipa itu menembus tanah. Dia berkaca mata. Rambut peraknya berkibar di tiup angin.

Di ketinggian 900 meter itu, hujan baru saja reda. Pipa berdiameter 12,5 sentimeter itu baru diangkat.

Lelaki itu adalah Andang Bachtiar. Dia doktor geologi. Andang mengambil batu, dan material lain tersangkut di selongsong pipa. Benda-benda purba itu seperti siap menjawab teka-teki di perut Gunung Padang.

Hampir setahun lebih, atau sejak Andang dan kawan-kawannya terlibat di Tim Peneliti Katastrofi Purba, ada pertanyaan besar menggelayut: adakah peradaban tinggi tersembunyi di perut gunung itu?

Ini hari kesembilan mereka menembus tanah Gunung Padang. Andang memperhatikan hasil pengeboran. Di lehernya melingkar loupe, alat bantu melihat kandungan batuan. Denganloupe, dia memperhatikan batu dan material berasal dari kedalaman 27 meter.

“Kami pernah menemukan pasir halus,” ujar Andang.

Pasir itu menurutnya bukan hasil bentukan alam. Sortirannya halus, dengan ukuran sama. “Seperti diayak,” ujarnya menambahkan. Artinya, pasir itu adalah hasil kerja manusia. Lalu, apa guna pasir di perut gunung itu?

Inilah yang mau dijawab. Gunung Padang adalah salah satu gunung diincar oleh tim itu. Gunung lainnya adalah Gunung Sadahurip, atau Gunung Putri di Garut, Jawa Barat. Sadahurip bentuknya sangat simetris, nyaris seperti piramida.  Uniknya, hasil riset geolistrik di Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, menunjukkan struktur serupa dengan Gunung Padang.  Ada lapisan batuan yang bukan buatan alam.

Seorang peneliti, Dr Danny Hilman, mengatakan hasil geolistrik dan georadar itu yang membuat mereka tertegun. “Dari hasil foto, dan juga georadar, lapisan batuan itu penuh anomali,” ujar Danny, yang ikut di lokasi pengeboran bersama Andang.

Itu sebabnya, untuk membuktikan hasil geolistrik dan georadar itu, dilakukan pengeboran di kedua gunung. Sampel pun diambil.

Sebagai awal, Gunung Padang menjadi proritas. Di gunung ini ada punden berundak, situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dari hasil pengeboran, sejumlah sampel tanah dan materi lain kemudian disodet, dan dimasukkan ke plastik bening, untuk penelitian carbon dating.

Hasilnya mencengangkan. Batuan di dalam  gunung itu bukan batuan biasa. “Itu man-made, buatan manusia,” ujar Hilman.  Hasil pengujian carbon dating, menyatakan kemungkinan batuan di sana berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi.

Danny yakin batuan itu bukan karena  alam. “Bahkan sampai di kedalaman 25 meter, iniman-made (buatan manusia),” ujar Danny.

Tak hanya itu. Susunan bangunan batu di dalam gunung itu, kata Danny, diduga sudah mengenal teknologi perekat dalam konstruksi bangunan. “Ini semacam semen purba,” ujar Danny, memperlihatkan sebuah lapisan terletak di antara susunan batu.

Andang juga menambahkan tentang pasir yang dia temukan itu. “Bisa jadi pasir ini adalah teknologi tahan gempa. Mungkin ada bekas yang masih bisa dipelajari,” ujarnya.

Menurut Danny, di Gunung Padang, sudah hampir dua per tiga bagian gunung itu diambil sampelnya. Hasilnya persis seperti uji geolistrik dan georadar yang dilakukan sebelumnya.  Ada semacam struktur bangunan di dalam gunung itu. “Dengan dua per tiga bukit ini buatan manusia, berarti teknologi konstruksi nenek moyang sudah luar biasa,” ujar Danny.

Bukan berburu piramida

Situs Gunung Padang bukanlah temuan arkeologi baru. Peneliti Belanda N.J Krom pernah menulis soal punden berundak ini pada 1914. Selanjutnya, R.P. Soejono menjadi peneliti Indonesia pertama meneliti situs ini pada 1982.

Gunung Padang baru menarik perhatian media setelah diteliti oleh Tim Bencana Katastrofi Purba, yang difasilitasi Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief. Ada pun Danny Hilman dan Andang Bachtiar adalah anggota tim ini.

Tim peneliti ini mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida di bawahnya.

Awalnya, soal dugaan piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu. Selain Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat. (Baca juga SOROT 124 Berburu Piramida Nusantara).

Keraguan pun muncul. Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence.

Bantahan  tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip, kata Sujatmiko, adalah gunung jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.

Danny Hilman tentu saja tersengat. Meskipun tak pernah mengatakan ada piramida secara eksplisit di Sadahurip, tapi Tim Katastrofi Purba memang pernah meneliti di gunung itu.

Tapi Danny mengatakan tujuan tim bukanlah mencari piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi di nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola mitigasi bencana dipahami.  “Tim ini terbentuk, bukan dibentuk. Kami juga hanya difasilitasi dalam melakukan penelitian ini,” ujar Danny Hilman.

Itu sebabnya, mereka menelisik dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat  para peneliti itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles pernah bilang, kerajaan di Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya,” ujar Danny, mengutip Sir Thomas Raffles (1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19.

Lalu mengapa memilih Gunung Padang?

Gunung Padang, kata Danny, adalah ‘kompleks bangunan’ besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, mereka ingin melihat adakah bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar. Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang.

“Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get‘. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan,” kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan tak begitu peduli anggapan orang yang menyebut timnya mencari piramida. “Masih terlalu dini juga menyebut piramida,” ujarnya, sambil terus mengamati materi terkandung dari hasil pengeboran.

Andang berharap penelitian lanjutan akan terus dilakukan di Gunung Padang. “Ini memang dari dana kami sendiri, karena itu hasilnya masih terbatas. Alat yang digunakan pun masih pinjaman, karena itu hanya bisa mengebor sampai kedalaman sekitar 25 meter,” tutur peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of Mines di Amerika Serikat pada 1991 ini.

Struktur piramida?

Untuk menjernihkan pelbagai tudingan, Danny Hilman dan Andang Bachtiar mengungkap hasil penelitian Tim itu pada acara diskusi di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012. Di acara ini, keduanya memaparkan tujuan, metode, dan hasil penelitian awal mereka .

Dikatakan, hasil survei georadar, geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan besar dan masif.  Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. “Kami menemukan struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Ada seperti sesuatu yang dipangkas,” kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan hal serupa, “Ini constructed. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural.” Di acara diskusi ini, tim kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan.

Sebelumnya, ada dugaan batu itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitucolumnar joint basalt. Tapi menurut Andang, dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalttidak ditemukan di sekitar situs Gunung Padang.

Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. (Lihat Infografik). “Ini bukan pelapukan andesit, tapi semacam semen purba,” Andang menambahkan.

Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan buatan yang materinya adalah pasir. “Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas bukan terbentuk secara alami,” jelas Andang. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8 hingga 10 meter. “Ini seperti teknologi yang mampu menahan gempa”.

Tim Bencana Katastrofi Purba kemudian menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil pengeboran. Menurut Danny Hilman, hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu. “Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi,” tutur Danny.

Jika hasil carbon dating itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah dikenal teknologi bangunan maju di wilayah nusantara. “Ini seperti Machu Picchu, di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi Machu Picchu juga berasal dari sini,” kata Danny menambahkan. Machu Picchu diperkirakan berasal dari abad 14 atau 15.

Ilmuwan lain menyambut baik temuan Tim itu. Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar, misalnya, mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. “Ambil sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya dengan bangunannya,” ujar Ali Akbar. “Sebaiknya dicek lagi di teras lain,” lanjutnya.

Harta karun

Dugaan tentang struktur apa yang dikandung di Gunung Padang menarik didiskusikan. Ahli kompleksitas Hokky Situngkir, yang berbicara di seminar tersebut, menyebut adanya kemungkinan bentuk piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas, Hokky mencari dugaan keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain.

Dari perspektif Arkeo-Geografi, Hokky mereka-reka suatu struktur piramida kecil yang dapat dicocokkan dengan lanskap geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang.

Mengenai bentuk piramida,  perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida (piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung yang terbentuk secara alami.

Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah man-made hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. “Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma,” ujar Danny.

Beda pendapat dengan Danny, geolog Sujatmiko mengatakan Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. “Itu gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka ingin di atas,” ujar Sujatmiko. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari pengalamannya mengamati bentukan gunung. “Lagi pula, tak ada temuan piramida di nusantara selama ini,” ujarnya.

Ahli geologi Awang Satyana membantah Sujatmiko. Dia mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. “Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak,” jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.

Arkeolog UI Ali Akbar juga mengatakan model piramida sudah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. “Tapi bukan seperti di Mesir. Di sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas,” kata Ali Akbar. “Di Indonesia bentuknya seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam,” jelasnya.

Heboh piramida ini juga menarik ahli asing, semisal genetikawan Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford, Inggris. Penuslis buku laris Eden in The East ini pernah mengatakan kawasan nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu (Lihat Wawancara Openheimmer).

Tapi soal piramida, dia mengatakan, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. “Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu,” lanjut Oppenheimer saat diwawancara  Arfi Bambani dari VIVAnews di Bali.

Seperti dijelaskan Andang dan Danny, mereka awalnya ingin mengetahui keterkaitan bencana purba dengan peradaban di masa lampau itu. “Ada siklus bencana di masa lalu yang tidak tercatat prasasti atau catatan kuno, dan ini menghancurkan suatu peradaban,” ujar Andang. “Kami ingin melihat kemajuan teknologi dan budaya, sehingga tak selalu mulai dari nol.”

Tapi tudingan ke Tim itu toh tak reda juga, termasuk mereka mengincar harta karun di situs purba. Apa kata Andang? “Kearifan dan ilmu dari masa lalu yang terpendam di gunung itu, itulah harta karun bagi kita,” ujarnya.(np)

• VIVAnews

sumber asli klik :http://sorot.vivanews.com/news/read/287335-menguak-piramida-di-gunung-padang

Juli 28, 2011

Menolak Hipotesis Indonesia Adalah Benua Atlantis

Kulit Putih Jadi Pribumi Orang Jawa Jadi WNA

oleh Agus Sunyoto pada 10 April 2011 jam 21:14

Menolak Hipotesis Indonesia Adalah Benua Atlantis (VII): Kulit Putih Jadi Pribumi Orang Jawa Jadi WNA

Memahami Nusantara Secara Emic Dalam ranah pendekatan kualitatif, pandangan Arysio Santos yang menganggap Indonesia sebagai sisa-sisa Benua Atlantis yang tenggelam, dapat dinilai sebagai pandangan bersifat etic, yakni pandangan orang luar terhadap subyek yang diteliti, yaitu pandangan orang Brazilia yang tidak pernah ke Indonesia dan tidak mampu menangkap makna di balik yang difahami orang-orang Indonesia. Oleh karena bersifat etic, maka menjadi wajar jika pemaknaan-pemaknaan dan penafsiran-penafsiran linguistik yang dilakukan Arysio Santos kelihatan sekali selalu sepihak dan bersifat sewenang-wenang dan coersive, mengabaikan pandangan emic orang-orang Indonesia, atau sedikitnya orang-orang India yang usia peradabannya jauh lebih tua dibanding peradaban Yunani kuno dalam memandang Indonesia.

Secara common sense, jika 6000 tahun sebelum Masehi di India sudah muncul peradaban neolithik pegunungan Vindhyan di selatan Uttar Pradesh, Koldihwa di dekat Allahabad, yang disusul Chiran di Bihar, Orissa dan Chotanagpur sampai ditemukannya kota purba Mohenjodaro dan Harappa, dipastikan bangsa-bangsa tua itu akan mencatat atau setidaknya mengabadikan keberadaan benua “luar biasa” Atlantis yang letaknya tidak jauh dari negeri mereka. Di dalam Indian Mythology, misal, Donald Mackenzie tidak sedikit pun menemukan legenda dan mitos tentang benua yang tenggelam di dekat India. Legenda Kumari Kundam yang tenggelam di selatan India, adalah legenda tenggelamnya sebuah pulau kecil yang tidak sedikit pun dihubungkan dengan bangsa berperadaban tinggi.

Bahkan Mackenzie mendapati mitologi India tertua, menyebut wilayah Nusantara sebagai wilayah Dewa Laut Varuna, yang secara mitologis digambarkan tinggal di istana Varunai di Varunadwipa (nama purba Kalimantan yang bermakna pulaunya Sang Baruna, yang dilafalkan keliru oleh lidah Belanda sebagai Borneo-pen). Mitologi India menggambarkan Dewa Baruna sebagai asura (musuh para sura, dewa) penguasa samudera raya. Anak-anak keturunan Baruna yang menghuni lautan disebut bangsa Kalakeya.

Berkali-kali bangsa Kalakeya dari lautan itu naik ke daratan, menyerbu kota-kota dan desa-desa bahkan beberapa kali menggempur Indraloka di Amaravati, demikian mitologi India merekam keberanian sekaligus kebrutalan raksasa-raksasa laut yang disebut Kalakeya. Di samping Kalakeya, muncul pula para Danawa keturunan Danu dan para Daitya keturunan Diti. Itu artinya, ingatan purba orang-orang India kuno tentang Indonesia beserta penduduknya adalah ingatan tentang lautan dan sekali-kali bukan benua besar yang tenggelam karena banjir besar.

Menurut asumsi Arysio Santos, Gunung Krakatau adalah pilar milik Varuna yang saat meletus menjadi agnishvattha, ‘api yang memurnikan’ ras-ras Timur Jauh (Indonesia) yang berkulit merah dan putih lainnya, terutama orang-orang Tocharia (bangsa kuno yang mendiami Tarim Basin di Asia Tengah), yaitu sebutan untuk “orang-orang Cina berambut pirang”, justru bertentangan dengan teks-teks kitab Veda dan pandangan emic orang-orang Hindu.

Sebab di dalam Rigveda Samhita Mandala IV Sukta 1 digambarkan bahwa Agni sebagai kekuatan api berbeda dengan saudaranya, Varuna, kekuatan air: sa bhrataram varunam agna a vavrtsva devam accha sumati yajnavanasam jyestharh yajnavanasam, rtavanam adityam carshanidhrtam rajanam carshanidhrtam (wahai Agni [api ilahi] semesta, bawalah saudaramu yang mulia, Varuna [air ilahi], pada kehadiran para pemuja. Dia sangat suka ikut serta dalam penciptaan alam semesta ini, setia pada hukum yang ditegakkan sebagai salah satu prinsip penciptaan yang tidak terbatas dan pemelihara umat manusia, ia laksana kekuasaan tertinggi yang dihormati umat manusia). Jelas sekali Veda membedakan Agni sebagai api ilahi dan Varuna sebagai air ilahi.

Tidak pernah kekuatan Varuna menjadi agnishvattha, karena agnishvattha itu berkaitan dengan Dewa Agni. Bahkan sekalipun Krakatau berada di tengah laut, sepanjang sejarah belum pernah ada dongeng atau mitos yang diyakini penduduk Nusantara yang mengaitkan gunung berapi itu dengan Varuna, kecuali Prof Arysio Santos tentunya.

Dalam pandangan emic penduduk Nusantara sendiri, sedikit pun tidak terlintas bahwa mereka pernah tinggal di sebuah benua besar yang kemudian tenggelam. Orang-orang yang menyebut diri Jawa, misal, mengakui keberadaan mereka sebagai orang-orang yang hidup di perairan di mana nama Jawa berasal dari suku kata “Ja” (keluar, lahir) dan “Wa” (air, sungai), yang bermakna ‘orang-orang yang lahir dari sungai, di mana kata “Ja-wah” yang bermakna hujan, juga berkaitan dengan air. Kata Sunda, dalam bahasa Jawa Kuno dan Sunda Kuno, juga bermakna “air”. W.J.van der Meulen dalam Indonesia Di Ambang Sejarah (1988) menyatakan bahwa sejumlah bangsa yang bertempat tinggal tersebar di sepanjang pantai Laut Tiongkok Selatan menyebut dirinya “PUTERA_PUTERA SUNGAI”, sebutan yang mungkin sekali semula berhubungan dengan sungai pedalaman, akan tetapi kemudian pengertiannya dihubungkan dengan Laut Tiongkok Selatan.

Hendaknya kita ingat bahwa menurut pendapat umum, bangsa-bangsa Austronesia turun melalui sungai-sungai besar ke pantai; mereka adalah bangsa-bangsa sungai sebelum menjadi bangsa-bangsa lautan. Sebutan “putera sungai” ini (atau “putera-putera air”), masih menurut Van der Meulen, diwakili dengan jelas oleh nama-nama Tagalog (Taga-ilog) di Filipina dan Galuh (merga atau aga-lwah) sepanjang pantai utara Jawa. Pun pula ternyata nama bangsa Ambastai, yang disebut Ptolemaeus dalam Chryse Chersonesos, yang bertempat tinggal di sepanjang Sungai Ambastai, karena kata Sansekerta “ambhastas” tidak lain bermakna “(lahir) dari air”.

Bahkan kerajaan tertua di Indonesia, Kutei, menyisakan prasasti Mulawarman yang berbunyi: “Sang Mulawarna seperti Raja Bhagiratha dilahirkan dari sagara… (Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, 1952). Keberadaan bangsa Indonesia sebagai bangsa laut tidak perlu diragukan lagi. Orang-orang asal laut selatan yang disebut orang-orang Cina dengan sebutan “Kun lun”, dikenal sebagai bangsa pelaut. Pada akhir abad ke-3 Masehi, sebagaimana dicatat oleh seorang pegawai daerah Nanking bernama Wan Zhen, kapal-kapal dari selatan ukurannya 200 kaki (60 m) panjang, 20-30 kaki (7-10 m) tingginya, bisa dimuati 600 – 700 orang, dan muatan seberat 10.000 hou…(Wang Gungwu, Nanhai Trade. A Study of the Early History of Chinese Trade in the South China Sea, 1958).

Kapal ukuran besar asal Jawa ditulis pula dalam catatan Fa Hien sewaktu ia pulang dari India, berlayar dari Srilangka dengan sebuah kapal besar berpenumpang sekitar 200 orang. Kapalnya diserang badai besar, terdampar di Ye-po-ti (Yawadi), yaitu Jawa. Ia tinggal di Jawa selama lima bulan dari Desember 412 sampai Mei 413, sebelum membangun sebuah kapal yang sama besarnya untuk berlayar kembali ke Cina (H.Giles, The Travel of Fa-hsien – 399-414 A.D,1956), di mana dengan berita Fa Hsien ini kita ketahui bahwa orang-orang Jawa pada abad ke-5 Masehi membuat kapal ukuran besar dalam tempo kurang dari lima bulan.

Identitas kelautan orang-orang Nusantara sedikitnya dicatat oleh kesaksian seorang saudagar Arab bernama Ibnu Lakis yang mencatat bahwa pada tahun 334 H (945 / 946 M), ia mendapati kira-kira 1000 perahu yang dinaiki orang Waqwaq, di daerah “sofala-nya kaum Zenggi”, yaitu di pantai Mozambique, Afrika. Orang Waqwaq itu – yang “kepulauannya terletak berhadapan dengan Negeri Cina” – menegaskan sendiri bahwa mereka “datang dari jarak yang memerlukan setahun pelayaran”. Mereka mendatangi pantai-pantai Afrika untuk mencari “bahan yang cocok untuk negeri mereka dan untuk Cina, seperti gading, kulit kura-kura, kulit macan tutul, ambar”. Yang terutama mereka cari adalah budak Zanggi,”karena orang Zanggi itu dengan mudah menanggung perbudakan dan karena kekuatan fisik mereka” (R.Mauny, The Wakwak and the Indonesia Invasion in East Africa in 945, 1965). Kesaksian Ibnu Lakis itu sedikitnya bisa dibuktikan secara faktual seputar keberadaan penduduk Madagaskar – sebuah pulau besar di Afrika timur – yang penduduknya bukan ras negro tetapi ras Austronesia – Melayu dengan bahasa campuran yang banyak menggunakan kosa kata Jawa Kuno dan Melayu.

Mengapa sumber-sumber emic tentang orang-orang Indonesia yang menganggap dirinya bangsa laut tidak sedikit pun dikutip oleh Arysio Santos? Apakah buku Atlantis – The Lost Continent Finally Found (The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization) yang ditulis Arysio Santos benar-benar berlatar penelitian murni tanpa hidden agenda di baliknya?

Konsekuensi Menerima Hipotesa Arysio Santos

Pernyataan Prof Arysio Santos dalam pendahuluan buku Atlantis – The Lost Continent Finally Found (The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization) yang menyatakan bahwa dengan mengikuti teorinya di mana Indonesia adalah Atlantis yang tenggelam akan berakibat pada perlunya dilakukan revisi besar-besaran dalam ilmu-ilmu humaniora seperti antropologi dan sejarah, disiplin ilmu-ilmu pendukung, misalnya, linguistik, arkeologi, evolusi, paleoantropologi, mitologi, dan bahkan mungkin agama, jika dicermati lebih mendalam ternyata berakibat lebih luas dan lebih mengerikan daripada sekedar revisi besar-besaran bidang ilmu humaniora. Sebab dengan diterimanya hipotesis Arysio Santos, secara common sense yang mula-mula wajib direvisi adalah sejarah Indonesia dan khususnya identitas penduduknya.

Sebab jika hipotesa Arysio Santos yang menyatakan bahwa Indonesia adalah bekas Atlantis dan orang-orang Saka, Yava, Yavana, Ionia, adalah keturunan Dravida Chamite kulit merah, penghuni awal Yavadvipa, maka keharusan fundamental yang wajib diterima adalah : “Pulau Jawa adalah tanah asal ras Arya yang bertubuh tinggi, berambut pirang, berkulit putih, dan bermata biru, yaitu ras keturunan Dravida Chamite berkulit merah dan putih asal Jawa .” Dengan asumsi dasar yang disepakati bahwa Pulau Jawa adalah tanah asal ras Arya kulit putih, maka sesuai teori mainstream disiplin ilmu antropologi-fisik dan etnologi bahwa penduduk yang menghuni Pulau Jawa dewasa ini adalah orang-orang Deutro-Melayu yang berasal dari ras Austronesia yang asalnya dari Indo Cina dan bermigrasi ke Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi, setelah orang-orang Proto-Melayu, maka kedudukan orang-orang Jawa Deutro-Melayu harus digolongkan sebagai warga pendatang baru.

Orang-orang Dravida Chemit berkulit merah dan putih, leluhur ras kulit putih, jauh lebih dulu tinggal di Jawa dibanding orang-orang Proto-Melayu apalagi Deutro-Melayu. Dan jika asumsi dasar ini sudah berkembang menjadi pandangan dogmatis dan doktriner dalam ilmu antropologi-fisik dan etnologi, tentu akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi logis tersendiri yang bisa membawa akibat serius, terutama jika ini dihubungkan dengan kecenderungan ras kulit putih untuk menghegemoni segala hal atas ras lain yang kulitnya berwarna. Fakta sejarah telah menggoreskan tinta merah darah tentang bagaimana saat ras kulit putih datang ke Afrika untuk merampok dan menjajah dan menjadikan orang-orang Afrika sebagai bangsa jongos, kacung, babu, dan budak belian.

Fakta sejarah telah menggoreskan tinta darah tentang bagaimana ras kulit putih yang datang ke Amerika — yang semula bertujuan mencari India – telah melakukan perampokan, penjarahan, pembantaian, dan penghancuran peradaban bangsa-bangsa asli penghuni benua Amerika seperti Aztec, Inca, Maya, dan membinasakan sampai ke akar-akarnya bangsa bangsa Navayo, Apache, Commanches, Iroquis, Mohican, Chirichahua, dan lain-lain sampai bangsa ini menjadi minoritas di tanah airnya sendiri.

Fakta sejarah juga menggoreskan tinta darah ketika ras kulit putih menanamkan kekuasaan atas benua Australia dengan membinasakan penduduk pribumi Aborigin lewat etnic-cleansing, salah satunya lewat pengabsahan undang-undang berburu orang Aborigin tahun 1893. Etnic-cleansing serupa dilakukan ras kulit putih atas orang-orang Maori pribumi New Zealand yang jadi minoritas dan terasing di tanah airnya sendiri. Yang paling kolosal adalah saat ras kulit putih di bawah rezim Nazi Jerman membasmi etnik Yahudi selama perang dunia II. Dan tentu, kita tidak boleh lupa dengan pembantaian sekitar 40.000 orang penduduk sipil Sulawesi selatan oleh tentara Belanda di bawah komando Raymond Westerling.

 

Pengalaman Pahit Bangsa Indonesia

Sejarah panjang kolonialisme kulit putih Belanda di Nusantara, telah memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana ras kulit putih itu dengan penuh tipu muslihat menelikung tokoh-tokoh pemimpin bangsa Nusantara untuk kepentingan mereka. Kisah berdirinya benteng Speelwijk yang terletak tepat di depan benteng Surosowan, Banten, adalah fakta sejarah yang tidak boleh dilupakan sebagaimana petuah Founding Father Bung Karno tentang Jas Merah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah). Sebagaimana diketahui, karena Belanda sudah diijinkan Sultan Banten untuk mendirikan kantor di Kalapa (Jakarta), maka keinginan Belanda mendirikan kantor di pelabuhan Banten ditolak. Berbagai upaya yang dilakukan utusan Belanda untuk membujuk sultan, tidak membawa hasil sampai satu saat utusan Belanda membawa selembar kulit kerbau kering dan meminta tanah selebar kulit kerbau untuk kantor VOC. Sultan Banten yang berpikiran polos mengabulkan permohonan utusan VOC yang membawa selembar kulit kerbau kering itu sambil menunjuk ke arah pantai di seberang benteng Surosowan. Sultan berpikir, apa yang bisa dilakukan Belanda dengan tanah selebar kulit kerbau? Ternyata, saat para nayaka menunjukkan tanah yang dimaksud sultan, utusan Belanda itu mengeluarkan sebilah pisau yang sangat tajam. Lalu dengan lihai, ia mengiris kulit kerbau itu secara melingkar sehingga menghasilkan semacam tali kulit yang sangat panjang. Lalu dengan tali kulit itu sang utusan mengukur tanah pemberian sultan untuk kantor VOC itu.

Demikianlah, meski sangat kecil untuk ukuran benteng, kantor VOC yang ternyata berbentuk benteng dan dinamai Speelwijk itu dilengkapi dengan meriam-meriam ukuran besar. Dan saat terjadi perselisihan antara sultan dengan putera mahkota, VOC memihak putera mahkota dan menyingkirkan sultan yang telah memberinya tanah. Dan untuk selanjutnya, putera mahkota yang dinobatkan VOC sebagai sultan, hanya jadi boneka yang bisa dipermainkan untuk kepentingan Belanda. Kasus hubungan baik antara Pakubuwono III dengan VOC, ternyata juga dimanfaatkan oleh mereka. Sewaktu Pakubuwono III gering dan akan meninggal, sebagaimana lazimnya orang Jawa, kepada VOC yang dianggap sahabat itu Pakubuwono berpesan “hanitipaken praja” untuk putera-putera keturunannya. Ternyata, kata-kata “hanitipaken praja” yang diucapkan Pakubuwono III ditafsirkan VOC sebagai “menyerahkan negara” kepada VOC. Demikianlah, semenjak itu para sunan di Surakarta diangkat atas perkenan VOC karena Kerajaan Surakarta secara sah sudah menjadi milik VOC karena diberikan secara sukarela oleh Pakubuwono III.

Yang menolak ketentuan, dibedhil dan ditembak dengan meriam. Telikungan kulit putih yang tak kalah menyakitkan, sewaktu Belanda dengan gigih menolak mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Dalam berbagai usaha diplomatik yang selalu dicederai Belanda, pihak Indonesia selalu dikalah-kalahkan dan disalah-salahkan mulai perundingan Roem-Royen, Linggarjati, Renville, dan baru pada perundingan KMB – Konferensi Meja Bundar (Round Table Conference) yang dimoderatori USA, perwakilan RI benar-benar kena telikung secara menyakitkan. Dalam KMB itu, kemerdekaan bangsa Indonesia baru mendapat pengakuan setelah RI mau menanggung utang luar negeri lama yang dibuat pemerintah Hindia Belanda sebesar US$ 4 miliar dan ditambah utang luar negeri baru sebesar Rp.3,8 miliar, di mana utang luar negeri warisan rezim kolonial Belanda itu disepakati dibayar selama 35 tahun terhitung sejak 1968, sehingga lunas tahun 2003. Jadi semenjak 1950, yaitu saat KMB diselenggarakan, pemerintah RI yang menerima hasil KMB harus menanggung utang yang dibuat rezim kolonial Belanda. Sejak menanggung utang rezim kolonial dan membuat utang luar negeri baru, pemerintah RI tidak bisa menghindar dari tekanan pihak pemberi utang. Presiden Soekarno yang marah kepada delegasi RI karena telah menerima utang warisan rezim Hindia Belanda dan membuat utang baru, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melampiaskan kekesalan kepada kapitalisme global.

Tahun 1957, misal, Soekarno melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Ini memicu pecahnya pemberontakan PRRI/Permesta, yang terbukti diback-up Amerika. Soekarno makin tidak suka dengan praktek-praktek neo-kolonialisme imperialisme yang dikembangkan negara-negara kampiun kolonial untuk “menjajah” negara-negara yang baru merdeka dari jajahan ras kulit putih. Latar historis yang sangat difahami Soekarno itulah yang melatarinya menggalang kekuatan bangsa-bangsa Asia dan Afrika, dalam konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955. Tidak cukup Asia-Afrika, Soekarno menggagas Gerakan Non-Blok yang diikuti negara-negara berkembang sedunia. Bahkan belakangan, Soekarno membentuk NEFO – New Emerging Force – negara-negara kekuatan baru – yang dibuktikan dengan terselenggarakanya Ganefo di Jakarta. Bahkan semakin tahu kebusukan PBB yang jadi alat Barat untuk melegitimasi kejahatan-kejahatannya, membuat Soekarno meninggalkan lembaga perserikatan bangtsa-bangsa itu: Indonesia keluar dari PBB.

Tragedi jatuhnya Soekarno, perlahan-lahan membawa negara Indonesia sebagai berkah terbesar bagi kapitalisme global, sampai Presiden USA Richard Nixon pada tahun 1967 – pasca jatuhnya Soekarno – mengatakan bahwa Indonesia adalah ” the greatest prize” di Asia Tenggara. Demikianlah, sepanjang era Orde Baru yang disusul era reformasi – yang ditandai momen-momen penting seperti Pakto 1988, pembentukan PKLN (Panitia Kredit Luar negeri) 1992, penerimaan penjadwalan globalisasi dalam KTT APEC 1994, Krismon 1997, gelombang reformasi hingga jatuhnya Soeharto 1998, euforia reformasi munculnya neoliberalisme 1999, jatuhnya presiden Abdurrahman Wahid 2001, amandemen UUD 1945 pada 2001 pasca jatuhnya Abdurrahman Wahid sampai selesai 2004, lahirnya UU Naker, UU PMA, UU PSDA, UU Agraria, dsb — telah menjadikan Indonesia bagian dari pasar global; di mana ide-ide, gagasan-gagasan, pandangan-pandangan, konsep-konsep, nilai-nilai, norma-norma yang dianut warga didasarkan pada pasar bebas; warga negara yang tidak sadar bahwa semua nilai kemasyarakatan yang disepakati para founding father telah berubah jauh di luar asumsi yang mereka fahami, kehilangan orientasi terhadap norma-norma yang mereka pegang selama itu, sehingga dalam kacamata Emile Durkheim dan Robert K. Merton, warga negara Indonesia dewasa ini bisa dikatakan sedang berada pada keadaan anomie; sementara meminjam kacamata James Petras dan Henry Veltmeyer, bangsa Indonesia dewasa ini berada di bawah bayang-bayang globalisasi, yang jika dibuka topengnya adalah New imperialism in 21st century!

Kemungkinan Terjadinya Pengulangan Sejarah Berdasar paparan di muka, rangkaian tragedi kemanusiaan yang pernah menimpa ras kulit berwarna yang dilakukan ras kulit putih itu, bukan hal mustahil bisa menimpa orang-orang Indonesia – terutama orang-orang Jawa – yang menurut teori etnologi dan antropologi-fisik adalah orang-orang Deutro-Melayu, penduduk pendatang asal Indocina. Itu artinya, orang-orang Deutro-Melayu (Minang, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis) adalah orang-orang asing yang tanpa hak telah mendiami tanah air orang-orang Dravida Chamite berkulit merah dan putih, yaitu leluhur ras kulit putih Saka, Yava, Yavana, Ionia. Bahkan pada masa depan, bukan tidak mungkin orang-orang Deutro-Melayu, terutama orang-orang Jawa akan didudukkan pada status Warga Negara Asing karena leluhurnya dari Indocina, yaitu warga Negara Asing yang sah diusir dari tanah leluhur ras kulit putih. Jika kemungkinan-kemungkinan tragis di atas dinilai terlalu paranoid dan berlebihan, setidaknya konsekuensi penerimaan hipotesa Arysio Santos harus diikuti revisi atas sejarah Indonesia. “Paling tidak,” kata Guru Sufi menegaskan, “Dengan diakuinya bahwa Indonesia terutama Pulau Jawa sebagai tanah asal ras kulit putih, maka sejarah kolonialisme Belanda, Inggris dan Portugis di Nusantara wajib direvisi.

Maksudnya, asumsi kolonialisme yang diberikan kepada Belanda, Inggris dan Portugis selama ini harus direvisi. Sebab baik Belanda, Inggris dan Portugis sejatinya bukanlah bangsa pendatang dari Eropa yang kemudian menjajah bangsa Indonesia, melainkan mereka itu kembali ke tanah air asal leluhur mereka: tanah air orang-orang Dravida Chamite berkulit merah dan putih. Bahkan kekejaman-kekejaman yang dilakukan orang-orang kulit putih selama menjajah bangsa Indonesia, harus dibenarkan sebagai tindakan yang pantas dilakukan oleh pribumi kuno atas para pendatang baru asal negeri asing dari Indocina itu.” Farel menarik nafas menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tavip Terbatuk-batuk. Sukirin geleng-geleng. Selama beberapa jenak, semua terdiam seperti sedang berpikir. Namun setelah itu, Tavip tiba-tiba bertanya,”Tapi mungkinkah skenario seperti itu bisa dijalankan, Pak Kyai?” “Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Semua serba mungkin,” kata Guru Sufi. “Apakah mereka akan mengulangi sejarah lama ethnic-cleansing yang kelam di era masyarakat dunia sudah mengenal HAM?” tanya Tavip. “Pengulangan bisa saja terjadi, tapi tentu tidak dengan cara-cara lama yang kasar, tetapi bisa dengan cara yang sistematik dan lebih halus seperti lewat penyebaran kuman-kuman, bakteri-bakteri, virus-virus, narkoba, miras, konflik horisontal, anarkisme,” kata Guru Sufi.

“Apakah hanya itu kemungkinannya, Mbah Kyai?” tanya Farel penasaran. “Bisa saja skenario Neo-imperialisme yang mereka gunakan,” sahut Guru Sufi,”Yaitu, menguasai sumber-sumber daya alam di negeri ini dan mengubah sumber-sumber daya alam itu sebagai komoditas yang didistribusikan ke seluruh dunia. Juragan-juragan kulit putih cukup menunjuk kuli-kuli, jongos-jongos, kacung-kacung, centeng-centeng, dan babu-babu sebagai karyawan-karyawan untuk mengelola sumber daya alam dan produk komoditas yang sudah mereka kuasai. Itu artinya, sumber daya alam negeri ini habis terkuras, semua keuntungan mengalir ke gudang juragan kulit putih, sedang penduduk negeri ini hanya berstatus kacung, jongos, kuli, centeng, dan babu.”

“Apakah kasus debt-collector Citibank membunuh nasabah bisa disimpulkan sebagai skala gurem dari fenomena ke depan yang lebih luas yang Pak Kyai sebut sebagai Neo-imperialisme?” tanya Tavip. Guru Sufi tidak menjawab. Ia diam. Namun sejenak setelah itu, ia berkata lantang,”Bukankah Founding Father, Proklamator bangsa, Presiden pertama kita Ir Soekarno sudah mengingatkan tentang bahaya Nekolim – Neo kolonialisme imperialisme? Bukankah James Petras dan Henry Veldmeyer sudah blak-blakan mengungkapkan bahwa Globalization Unmasked: A New Imperialism in 21st century? Apalagi yang belum jelas wahai saudara-saudaraku?” lalu dengan mengucap salam penutup, Guru Sufi pergi mengambil wudhu untuk mendirikan shalat malam.

sumber asli:http://www.facebook.com/notes/agus-sunyoto/kulit-putih-jadi-pribumi-orang-jawa-jadi-wna/2007183543854

Juni 28, 2011

kurang ya opo ? sdh sampai KM 0 RI

tersandera  by andang bachtiar ( FB ADB 09 juni 2011)

 

kemaren selasa aku melihat dari dekat

wajah pemimpin2 negara yg tersandera

 

bkn hanya bicara soal moral,

bicara ranah hukum yg hitam putih ttg data-pun,

teriakanku ngambang di udara

ditelan terlalu keras,

dimuntahkan terlalu pedas

 

mungkin aku terlalu naïf untuk mengerti

arti keseimbangan dan ?for the good old-time sake? filosofi;

yg kutahu hanya: uu dan pp mengharuskan

lapindo menyetor data

terkait pemboran bjp-1, seismik2 dan survei2 geofisiknya ke pemerintah

krn sdh lebih dr 4 tahun stlah akuisisi

: shg masyarakat ?minimal komunitas periset- bisa memanfaatkannya

tanpa harus repot2 setiap kali

musti datang ke kantor si perusahaan eksplorasi

 

kalau lapindo gak mau nyerahkan dan pemerintah gak ngotot memintanya

: apapula namanya itu kalau bukan tersandera?

 

lalu juga kusaksikan

lingkaran setan yg turun pangkat jadi kambing hitam

: ttg kengototan bicara

perlunya meneliti lagi klaim orang2 sengsara

yg berteriak hampir putus asa

: rumahnya tak layak hidupnya ketlarak

gara2 bencana lumpur yg bukan jadi kehendak

 

meski curiga ada mafia tanah bermain di sana

tapi mbok ya o hormatilah juga

integritas kawan2 its dan unair yg independen

menentukan nasib 45RT yg perlu digantirugi

krn jawabannya juga ngambang

: dikaitkan dg pembayaran 400miliar dr bakrie

dan juga 1,2 triliun sisa utang yg 2012 akan dilunasi

dan juga ungkapan beliau bhw perlu ditimbang2 lagi

terintegrasi, menyeluruh, dari semua sisi

: atas klaim 45RT tersebut(??)

kurang melingkar gimana si lingkaran setan?

kurang hitam apa si kambing hitam?

 

lalu ketika kukeluhkan distorsi informasi

ttg seismic 3d yg diplintir jadi alat verifikasi

kerusakan kehidupan di permukaan yg existing,

shg masyarakat tdk lagi mau terima disosialisasi,

krn takut nanti dari seismic 3d

yg harusnya dia dpt ganti di 45RT jadi gak dpt ganti

maka terkendalalah seismic 3d

dan yg mendistorsi ini juga orang2 dan lembaga pemerintah,

yg mustinya diperingati!!

malahan pemimpinku mengangguk2 dan mengungkapkan

spy kita sabar, krn itu politisasi

satu2 akan  diberesi;

smentara pada saat yg sama

mrk minta kita kasi rekomendasi permanen solusi

(yg tergantung dr interpretasi atas data seismic 3d yg gak kunjung jadi itu),?

nah, lak mbuleth to?

 

tapi melegakan juga bisa bebas diskusi,

lempar uneg2 tanpa halangan dg pucuk2 pimpinan

mungkin juga ini satu2nya paparan ke presiden di ruang itu

yg waktunya sampai 2 jam

karena katanya biasanya maksimum 45 menit saja

dan serunya: ini miting resmi dg presiden

yg 2 peseta mitingnya datang telat

wisnu datang 3:30, didit jam 4

padahal acara sudah dimulai sejak jam 3

untungnya sby mau terima

wkwkwkwk….

 

adb

juni 2011

disadur apa adanya dari FB andang bachtiar dalam rangka menyemangati korban lumpur (45RT )

yang ketemu men PU 28 juni 2011


	
Juni 8, 2011

SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP EKSPLORASI MIGAS DI JAWA TIMUR

by : amien widodo ITS

SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP EKSPLORASI MIGAS DI JAWA TIMUR

Pulau Jawa secara geologis termasuk berada di kawasan tektonik aktif, hal ini terjadi sebagai konsekuensi karena Indonesia ditumbuk lempeng tektonik yaitu Samudra Hindia-Australia dan lempeng Eurasia. Tumbukan kompresi lempeng ini membentuk Cekungan Jawa Timur Utara dengan pola struktur geologi yang khas yaitu (1) struktur patahan dengan arah NNE-SSW, (2) struktur patahan barat – timur (3) struktur lipatan dengan sumbu barat – timur dan (4) struktur diapir dan gunung lumpur di bagian puncak antiklin dan zona patahan.

Secara fisiografik tektonik maka wilayah Cekungan Jawa Timur Utara merupakan cekungan yang aktif sehingga sedimen yang terbentuk sangat tebal dan berlangsung sangat cepat dan sangat dimungkinkan adanya sedimen yang belum membatu terjebak diantara lapisan. Aktivitas tektonik ini terjadi berulang-ulang, sehingga menyebabkan struktur geologi daerah ini menjadi kompleks dan.menyebabkan terjebaknya minyak dan gas bumi serta lapisan lumpur bertekanan tinggi. Aktivitas tektonik dan volkanisme menyebabkan lapisan lumpur semakin terkompresi sehingga akan menekan ke permukaan membentuk diapir di dalam tanah dan kalau ada retakan/lubang akan berfungsi sebagai penghantar lumpur bertekanan tinggi keluar ke permukaan bumi sebagai gunung lumpur (mud volcano). Jalur yang bisa memungkinkan banyak dijumpai retakan antara lain di sekitar puncak antiklin yang umumnya berasosiasi dengan retakan dan patahan atau diatas tubuh diapir karena banyak retakan akibat desakan vertikal diapir. Gunung lumpur yang yang keluar dengan sendirinya di sekitar puncak puncak antiklin seperti di Kalanganyar Sidoarjo, Gununganyar Surabaya, beberapa tempat di Jombang, di Madura dan lain-lain.

Lubang penghantar juga bisa disebabkan karena aktivitas pengeboran migas seperti yang terjadi di Porong, Kalimantan, Serang Banten, Gresik dan lain-lain. Pemahaman inilah yang diterima hampir semua masyarakat bahwa aktivitas pengeboran bisa memicu munculnya semburan lumpur. Beberapa ahli menyebutkan bahwa apa yang terjadi di Porong diakibatkan oleh alam baik karena adanya patahan maupun karena adanya aktivitas volkanisme, dan wacana ini yang paling banyak diisukan di media. Isu bencana alam ini juga menambah ketakutan masyarakat karena bayang-bayang tidak ada ganti rugi bila terjadi kejadian yang sama di lain tempat di daratan Jawa Timur

Penanganan semburan lumpur panas Sidoarjo ternyata tidak semudah yang dibayangkan bahkan semburan ini menimbulkan ancaman-ancaman lain yang berdampak serius pada lingkungan di sekitarnya termasuk berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat yang bermukim di sekitar tanggul. Ancaman-ancaman yang muncul antara lain amblesan yang diikuti retakan tanah dan bangunan, ancaman semburan gas yang mudah terbakar dan mencemari udara, ancaman tanggul jebol dan ancaman pencemaran. Pada tahun 2008 Gubernur sebagai salah satu dewan pengarah penanggulangan semburan lumpur berinisiatif membentuk tim yang terdiri dari para peneliti yang berkompeten dari ITS dan UNAIR dengan tugas melakukan kajian kelayakan permukiman di desa-desa di sekitar tanggul lumpur dalam rangka menyelamatkan penduduk dari ancaman bencana.

Untuk menentukan kelayakan permukiman di desa tersebut kajian yang dilakukan meliputi jumlah dan kualitas emisi dari semburan yang masih aktif; pencemaran udara, air dan tanah; penurunan tanah yang terjadi dan dampaknya terhadap bangunan fisik; kondisi kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena semburan lumpur panas masih berlangsung dan makin meluasnya kerusakan yang ditimbulkan maka pada tahun 2010 dilakukan kajian lanjutan dengan menambah jumlah desa yang akan dikaji yaiut menjadi 13 desa di sekitar tanggul Lumpur. Parameter yang dikaji mencakup bidang semburan, penurunan tanah, pencemaran lingkungan, kerusakan aset, kesehatan masyarakat, psikososial dan mitigasi bencana.

Hasilnya pada tahun 2008 ada 9 RT yang tidak layak huni dan pada tahun 2010 ada 45 RT yang tidak layak huni atau jumlah totalnya 54 RT. Hasil ini yang telah diupayakan oleh Gubernur dan timnya sudah disampaikan dan sudah dipresentasikan di depan seluruh anggota dewan pengarah yang dipimpin oleh Menteri Pekerjaan Umum pada Agustus 2010. Harapannya segera dilakukan tindakan-tindakan penyelamatan bagi masyarakat yang sudah terpapar selama ini. Pemahaman masyarakat bahwa aktivitas pengeboran bisa memicu keluarnya lumpur, semburan lumpur menimbulkan ancaman-ancaman baru yang membahayakan lingkungan di sekitarnya, ada wacana sebagai bencana alam dan penanganan semburan lumpur yang berlarut-larut baik penanganan fisik maupun sosial ekonomi ternyata menimbulkan dampak lain yang lebih luas yaitu trauma dan ketakutan dengan aktivitas eksplorasi migas di seluruh daratan Jawa Timur.

Hasil survei di beberapa kabupaten di Jawa Timur hampir sebagian besar menolak aktivitas eksplorasi migas walau baru survei seismik. Kalau hal ini dibiarkan maka akan terjadi penolakan secara massal segala eksplorasi migas di daratan Jawa Timur. Kalau dilihat dari kacamata manajemen risiko maka semburan lumpur panas Sidoarjo dan ancaman-ancman yang muncul berikutnya ini dapat dikategorikan sebagai ancaman yang sangat berisiko karena telah menganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat di kawasan Jawa Timur.

Dikatakan sangat berisiko tinggi karena frekuensi kejadian dan magnitudnya sangat tinggi, dan berdampak pada kondisi fisik, infrastruktur, sosial ekonomi dna lingkungan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana pasal 12 ayat (1) Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi menimbulkan bencana, wajib dilengkapi dengan analisis risiko bencana dan (2) Analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan persyaratan analisis risiko bencana melalui penelitian dan pengkajian terhadap suatu kondisi atau kegiatan yang mempunyai risiko tinggi menimbulkan bencana.

Implikasinya dibutuhkan peranan pemerintah untuk melakukan edukasi dan pemahaman pencarian migas di darat dan dibutuhkan kebijakan baru terkait dengan eksplorasi migas di darat yaitu kebijakan melakukan dan membuat analisis risiko kalau terjadi semburan lumpur mengngingat di Jawa Timur termasuk kawasan yang mempunyai lapisan lumpur bertekanan tinggi. Analisis risiko ini dibuat bersama-sama antara pengusaha migas dengan masyarakat dan pemerintah lokal.

Amien Widodo ITS Surabaya

Juni 4, 2011

Gunung Lumpur Sukodono Mirip Porong (radar sby,4 juni)


SIDOARJO – Survei mulai dilakukanoleh tim Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) di kawasan Sukodono yang diindikasikan terdapat gunung lumpur. Tim BPLS juga telah meneliti dugaan adanya gunung lumpur tersebut di bekas Gunung Kweni di wilayah Sukodono.

Kepala Bidang Operasi BPLS, M Sofyan Hadi, mengakui bahwa tim BPLS telah mengambil sampel tanah di kawasan Gunung Kweni tersebut. Menurutnya, dari hasil sementara, memang terungkap bahwa ada kemiripan karakter tanah antara tanah di kawasan Gunung Kweni Sukodono,

Meski demikian, penelitian masih akan dilakukan lebih dalam untuk mengetahui karakter tanah tersebut. Sejauh ini, katanya, BPLS masih mendalami adanya dugaan fenomena gunung lumpur yang ada di Sukodono. ‘’Kita akan pastikan lebih jauh.’Jika perlu, akan kita datangkan ahli geologi untuk memastikan dugaan adanya gunung lumpur itu,’’ tandasnya.

Dari fenomena gunung lumpur yang ada di Jawa Timur, terdapat sebuah garis yang menghubungkan antara beberapa gunung lumpur yanga ada. Diantaranya, pusat semburan lumpur Lapindo dan Denanyar di selatan Gununganyar, Kalanganyar, dan Pengangson, Krian, di sebelah utara. Serta garis yang membentang antara semburan lumpur Lapindo, Kalanganyar, dan Gununganyar, di sebelah timur.

Seperti diketahui, dugaan adanya gunung lumpur di kawasan Sukodono membuat beberapa warga Sukodono resah. Selama ini, gunung yang dulu dikenal oleh masyarakat dengan Gunung Kweni di Sukodono itu sudah rata dengan tanah. Malah, bekas gunung yang kini sudah rata itu dibangun Puskesmas Sukodono,gudang Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, dan komplek rumah toko dan perumahan. BPLS mengungkapkan, selain Sedati dan Porong, dari data satelit, wilayah yang diduga merupakan potensial gunung api lumpur di Sukodono bahkan mencapai satu hektar. Data tersebut mengungkapkan bahwa ada gundukan setinggi 3-4 meter dari kondisi normal. (vga)

 

 


	
Juni 1, 2011

Gempa yogya dan semburan LUMPUR ,benarkah? by danny hilman

tulisan ini diambil dari forum para geologist 
Danny hilman : Pakar gempa Laboratorium Gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 

 

Tadinya ingin baca- baca dulu makalah-makalah mereka sebelum mendiskusikannya.  Tapi okay lah kalau sekedar tinjauan umum.  Sebelumnya,saya kira perlu kita consider bahwa kalaupun LUSI itu tidak ada kaitannya dengan gempa Bantul tidak berarti bahwa kejadian ini bukan bencana alam.

 

Menurut hemat saya, apabila sudah jelas bahwa tidak ada kesalahan dalam

prosedur pemboran maka LUSI itu secara hukum bisa dianggap sebagai bencana alam (apapun penyebabnya) meskipun kejadian mud volcano ini barangkali

memang benar dipicu oleh pemboran. Yang harus dijaga, kejadian ini tidak boleh terulang lagi dengan cara lebih memahami prosesnya dan barangkali ada

prosedur pemboran yang harus diperbaiki atau ditambah (aspek mitigasi

bencana alamnya).

 

 

 

Fenomena yang dikemukakan Neng Amanda adalah hal biasa.  Waktu seminar Lusi di Borobudur duluu Si Jim Mori juga mempresentasikan hal sama tapi pake

contoh dari Jepang.  Sebetulnya tidak perlu jauh-jauh cari contoh fenomenaini ke Amerika dan Jepang, di Indonesia juga banyak, khususnya di Sumatra karena saya lama meneliti di situ.  Jadi, adalah fenomena yang umum ditemukan bahwa suatu kejadian gempa dapat memicu aktifitas gempa/tektonik dan volkanik di sekitarnya, tidak perlu dibuktikan lagi.  Tapi yang penting untuk kita pahami adalah bahwa  “FENOMENA/PRINSIP” ini SAMA SEKALI BELUM MEMBUKTIKAN adanya keterkaitan antara gempa Jogya 2006 dengan peristiwa munculnya Mud Volcano di Porong,  Setahu saya dua pakar itu (Mori dan Clarke) sama-sama mengatakan bahwa mereka tidak bilang bahwa LUSI dipicu Gempa Bantul 2006, harus diteliti lebih lanjut dulu.

 

 

 

Sebagai ilustrasi, contoh dari Sumatra:

 

Gempa Aceh 2004 (Mw9.2) memicu Gempa Nias 2005 (Mw8.7). Dua gempa besar ini juga memicu banyak gempa-gempa kecil di Patahan Sumatra.  Kemudian selanjutnya dua gempa ini juga bisa dibilang memicu gempa  Bengkulu 2007 (Mw8.4).

 

Demikian juga gempa Padang 2009 (Mw7.6) memicu Gempa di patahan Sumatra dekat Danau Kerinci (Mw6.6) yang berjarak sekitar 250km dari Padang setelah 12 jam kemudian.  Yang aneh, Segmen Megathrust Mentawai yang sebetulnya sudah stress banget kok masih diam saja digoyang gempa M>8 tiga kali, M>7 puluhan kali,dan M>6 ratusan kali….

 

Gempa Liwa 1933 (M7.5) dalam 14 hari memicu letusan phreatic di Lembah Suoh karena Suoh ini memang persis diujung selatannya segmen patahan yang bergerak, yaitu di zona transtension.

Demikian juga Gempa Singkarak Maret 2007 (Mw6.4) memicu kenaikan aktifitas vulkanik Gunung Talang.

NAMUN, tentu  jauh lebih banyak patahan-patahan dan gunung-gunung api YANG TIDAK TERPICU.

Jadi, ada berbagai persyaratan yang harus dibuktikan bahwa pemicuan itu memang terjadi, tidak bisa main “copy – paste” saja.

Beberapa parameter dan prinsip  dasarnya adalah:

 

–          Seberapa besar gempanya

 

–          Seberapa jauh jarak sumber gempa ke lokasi

 

–          Suatu gunung api hanya dapat dipicu oleh gelombang gempa apabila gunung itu memang sedang dalam fasa aktif magmanya, tidak bias sekonyong-konyong meletup-letup.

 

–          Suatu patahan hanya dapat dipicu untuk bergerak  apabila patahan

itu memang termasuk patahan aktif dan kebetulan akumulasi stress/strainnya sudah cukup tinggi.  Tentu tidak bisa patahan yang sudah mati sekonyong-konyong bisa bergerak karena dipicu gempa, emangnya ada gempa zombie.

Dengan kata lain, istilah pemicuan gempa artinya hanya membuat akumulasi strain di suatu patahan menjadi terlepas (lebih cepat) karena digoyang  getaran gempa.

–          Demikian juga dengan Mud Volcano.  Gempa atau gerakan tektonik

sekalipun tidak bisa sekonyong-konyong memicu sebuah MV,kecuali kalau memang

sudah ada ‘bahan’nya, artinya ada “lapisan very unstable-saturated-overpressure” yang bisa meledak kalo digoyang.  Mungkin analoginya adalah seperti peristiwa liquifaction yang banyak terjadi di wilayah gempa, hanya skala dan kedalamannya beda.

Demikian ulasan prinsip-prinsip dasarnya.

Sekarang kita lebih fokus ke si LUSI.  Kita diskusikan dengan dialog saja deh biar enak.

Baca lebih lanjut

Mei 25, 2011

Inferior complex penanganan Lumpur lapindo

bendera asing di lumpur lapindo (beritajatim.com)Hari ini 25 mei 2011 BPLS (badan penanggulangan lumpur sidoarjo ) bekerjasama dengan Humanitus foundation Australia mengadakan serangkaian kegiatan dalam rangka #5thlumpurlapindo yaitu pemantauan lapangan di semburan lumpur lapindo  yang dilanjutkan seminar di hotel surabaya.Para peneliti yang tergabung dalam Humanitus Foundation ini berasal dari Indonesia, Jepang, Norwegia, Rusia, Ukraina, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia .

Acara yang di biayai dari APBN sebesar 1,82 miliar dan kerjasama dengan institusi lainnya ini ternyata  patut disayangkan salah satunya oleh geologist indonesia DR andang bachtiar melalui akun twitternya ketika ditanya oleh penulis tentang apakah ikut seminar BPLS+humanitus itu? “aku dewe gak iso teko,..dan krn risih ini semua bau2nya ada muatan politisnya, aku gak ngotot teko” ..saya sendiri gak bisa datang … dan karena risih ini semua bau2nya ada muuatan politisnya,saya nggak berusaha datang (terjemahan penulis).

Tadinya kupikir keren, banyak ahli dr luar hadir dsb,tp setelah komunikasi dengan panitia, aku jadi kecewa karena nampak ini untuk klaim kbenaran sepihak.Biarpun banyak yg diundang, tp yg diberi ksmpatan bisa bicara di dpn menyampaikan makalah hanya orang2 tertentu saja.dari Indonesia hanya 2 yg digilir bicara:yaitu  Sawolo LAPINDO dan Awang BPMIGAS, lainnya 10bule & umumnya mrk proponen penyebab gempa.

Banyak org diundang sbnarnya untuk meramaikan dan jadi justifikasi saja bhw ini adalah forum ilmiah berbagai pihak,   ” Sayang sekali. Memangnya ITS, ITB, UGM, LIPI, BPPT dll gak punya ahli dan pendapat ttgLuSi?? koq gak dikasih bicara?”  Memang asyik menyimak expat2 itu bicara, tp lebih asyik lg kalo peneliti Indonesia juga bicara, bkn hnya dr Lapindo & BPMIGAS saja.Lagian koq tendensius dan memihak banget: kenapa justru Lapindo & wakil BPMigas yg bicara? Mereka berdua segendang sepenarian.

Mustinya dari fihak fihak  lain -dr Universitas -terutama- yg lebih independen atau sekalian bersebrangan madzhab dg mrk berdua juga bicara,Rasanya seperti jaman penjajahan dan bodoh sekali kita ini krn sbagian dr kita selalu anggap expatriate lebih jago dari kita sndiri.Memangnya mereka anggap apa:Amin ITS ,Hasanuddin ITB,  Zainuddin BG, Ben Sapiie ITB, AgusHendratno UGM, dll yang  juga riset tentang Lumpur Lapindo.Terus kenapa cuma Lapindo & BPMigas yg mereka  undang bicara? Apa mereka tidak tahu Indonesia punya Universitas  & lembaga yang juga riset riset  di Lumpur Lapindo,why?

Memang menyedihkan dan menjengkelkan, tapi itulah kenyataan: mental inlander terjajah masih selalu ada di kepala kita.Bahkan di dunia sains pun para administratur, birokrat dan politisi kita tdk bisa menghargai saintisnya sendiri.Jadi mari kita sama sama  ke Porong 25-26 mei ini untuk menyerahkan harga diri keilmuan kita ke ahli ahli  asing & menyediakan diri dimanfaatkan untuk bersih bersih.

BPLS sebagai representasi negara dalam menangani lumpur lapindo sekali lagi melakukan kesalahan dalam “memobilisasi  justifikasi sains”  dalam penanganan musibah lumpur ini.

Akun twitter : DR Andang bachtiar ; yyg_geomerdeka

salam,

badrus zaman/

twitter : @debadr

FB: sam sudrab


Mei 18, 2011

potensi gempa : usaha mengurangi resiko bencana

by stafsus bencana dan bantuan sosial andi arief
memahami gempa purba
Pelajaran Strategi Mitigasi Bencana Gempa bumi di Jepang

Dalam beberapa hari ini berita tentang potensi bencana selat sunda 8,7 sr menjadi perdebatan, rumor dan menimbulkan ketidaknyamanan. Ada yg memanfaatkan isu itu untuk membuat publik jadi bingung. Seolah datang teror baru kegempaan.

Awalnya adalah ketika saya diundang oleh sebuah diskusi “sunday Briefing” tentang strategi mitigasi bencana indonesia. Dalam diskusi itu saya membuat makalah dg judul Bencana Katastropik purba. Karena dalam beberapa bulan terakhir
ini bersama para ahli, kami sedang menyusun apa saja jenis kegempaan katastropik purba. Salah satu yg kami temui dan sedang dalam riset serius adalah modeling tim 9 peta gempa dan modeling dari disertasi peneliti gempa di nagoya Jepang, yg
angka potensinya 8,4 sr dan 8,7sr.

Penyusunan sumber-sumber potensi ini sebenarnya dalam rangka memperkuat strategi
mitigasi ke depan.Karena tidak ingin mengulangi hilangnya sebagian peradaban di aceh 2004, serta hampir bukti sejarah kita di masa lampau. Kami tidak ingin sebuah siklus bencana datang secara misterius dan menggerus peradaban.

Dari mana inspirasi itu? di tengah kita sedang menyempurnakan peraturan dan pelembagaan mitigasi bencana, kami mencoba melirik cara Jepang melakukan upaya mitigasi yg menjadi panutan banyak negara. Adalah Dr. Irwan Meliono(GREAT ITB) dan peneliti kampus lainnya yg memperkenalkan beberapa tahap mitigasi di jepang

MITIGASI JEPANG

Dengan luas wilayah yang hanya 0,25% dari seluruh bumi tetapi 20.8% dari gempa
besar di dunia terjadi di Jepang. Berdasarkan pengalaman panjang terkena bencana
gempa termasuk diantaranya gempa Kanto tahun 1823, maka salah satu strategi
penanggulangan risiko bencana yaitu dengan pendirian Central Disaster Management
Council.

1.pelembagaan mitigasi
Keanggotaan Council ini yaitu :
* Perdana menteri (ketua)
* Menteri Negara untuk Managemen Bencana
* Para Mentri dan Ketua Badan terkait
* Peneliti Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian.                             ​​* Rencana operasional management bencana :

Rencana operasional ini dibuat oleh
masing-masing kementrian yang mendapatkan amanat melaksanakan mitigasi
bencana dari undang-undang

Rencana local managemen bencana: Rencana ini dibuat oleh setiap provinsi
dan kota berdasarkan rencana dasar management bencana.

2. upaya mitigasi
Upaya nasional didalam penyebaran informasi bencana dengan Upaya pengurangan resiko bencana dilakukan dengan berprinsip pada kombinasi

1. Kemandirian: Kemampuan bangkit dari bencana berbasiskan kemandirian
masyarakat (masyarakat membantu komunitasnya sendiri saat terjadi bencana)
dengan
a. Bantuan mutual: Kemampuan bangkit dari bencana berdasarkan bantuan dari
organisasi berbasiskan komunitas
b.Bantuan pemerintah: Bangkit dari bencana berdasarkan bantuan dari pemerintah daerah dan pusat.           

3.strategi mitigasi
Strategi pemerintah Jepang di dalam mempromosikan gerakan nasional mengurangi
resiko bencana, dilakukan dengan:

1.Melibatkan seluruh lapisan masyarakat di dalam aktifitas pengurangan risiko bencana. Hal ini dilakukan dengan memperkenalkan upaya pengurangan bencana didalam aktifitas keseharian masyarakat, sekolah dan lembaga relawan. Menjelaskan potensi bencana ke semua jenjang pendidikan dari mulai TK sampai perguruan tinggi. Perioda dari 30 Agustus sampai 5 September dinyatakan sebagai minggu pengurangan bencana.

2.Memberikan informasi potensi bencana dengan benar dan mudah. Semua lapisan masyarakat termasuk diantaranya warga Negara asing yang tinggal di Jepang mendapatkan informasi hasil penelitian terkait potensi gempa diwilayahnya melalui selebaran yang mudah untuk dipahami

3.Mempromosikan kepada perusahaan dan elemen masyarakat bahwa upaya mitigasi merupakan investasi untuk keselamatan bersama.

4.Mempromosikan kolaborasi yang lebih luas dalam pengurangan risiko bencana dari pemerintah pusat, daerah, sekolah dan NGO.

5.Mempromosikan upaya yang berkelanjutan untuk pengurangan resiko bencana, seperti pendirian komunitas lokal siaga bencana.

%d blogger menyukai ini: